Oil and Gas Offshore industry lebih dari setengah abad telah menjadi penopang kebutuhan energi dunia. Seratus tahun sebelumnya onshore industri telah berkembang dan mendominasi industri ini. Salah satu bidang disiplin ilmu yang tidak dapat terlepas keberadaannya dalam menunjang kebutuhan energi ini adalah instrumentasi dan kontrol (automation). Disiplin ilmu ini berperan dalam memberikan monitoring dan otomasi atau kontrol pada proses pemisahan dan pengolahan minyak dan gas secara normal dan kontinyu (PCS). Selain itu juga berperan menjamin keselamatan dari adanya bahaya dari dalam proses atau bahaya yang berasal dari luar (SIS).
Basic dari instrumentasi dan kontrol adalah:
Measurement——-> Control ———> Actuator/Final Element
Instrumentasi mencakup definisi untuk semua device yang menunjang berlangsungnya process measurement, signal transmission, dan process acuation. Sedangkan kontrol mencakup methode dan peralatan yang menunjang berlangsungnya pengolahan data dari pengukuran, pengolahan logika pengontrolan, dan memberikan control decision untuk actuator.
Measurement/Pengukuran
Apa saja yang hendak diukur dari suatu industri pengolahan oil & gas? Besaran fisika standar yang merupakan ciri karakteristik adanya suatu fluida (oil or gas) merupakan besaran wajib untuk diukur. Pressure, Temperature, Flow, Level & Komposisi adalah besaran pokok yang perlu dikuasai pada industri oil & gas. Besaran tambahan untuk melayani equipment atau mesin seperti pengukuran kecepatan dari benda yang berputar & pengukuran getaran/vibrasi juga diperlukan. Bagaimana cara mengukurnya? Kalo anda berbasis pendidikan ke-teknik-an yang tepat maka semua metoda pengukuran dengan sensor untuk pressure, temperature, flow, level, komposisi, vibrasi, kecepatan putar tentu saja sudah didapatkan dibangku kuliah. Sudah saatnya untuk refresh kembali prinsip-prinsip bourdon tube, diaphragm, bimetal, seebeck effect, bernoulli effect, orifice, ventury, continuity mass, DP effect to static fluid in tank and dynamic fluid in pipe, sifat keterapungan benda di fluida, ultrasonic principle, dll. Prinsip-prinsip sensor dan transducer menjadi dasar bagi pemahaman karakteristik pengukuran fluida di industri oil & gas.
Signal Transmission
Product yang secara simple menunjukkan proses ini adalah e.g. transmitter yang mengirim signal 4-20 mA, Switch yang mengirim signal 0 & 1 or Contact & Open, transmitter superimposed HART, Foundation Fieldbus, Digital Input & Digital Output. Bagaimana membentuk signal itu? bagaimana cara meng-coding signal HART & FF? Tentu saja manufacture sudah menyediakannya dan industri oil & gas tinggal menggunakan colok & nyala or plug & play. Tapi secara konsepsi bagaimana men-generate signal transmission dari transmitter ke sistem kontrol dan sebaliknya tentu saja adalah scope pekerjaan instrument & control engineer yang memerlukan knowledge base ttg signal processing & signal transmission. It’s not easy. Tapi kalau pekerjaannya hanya untuk memasang maka knowledge tentang signal tidak akan diperlukan.
Kontrol
Pada tahap ini dunia instrumentasi & kontrol untuk oil & gas memegang peranan penting dalam menjamin berlangsung proses secara auto, online-real time process monitoring & safety. Pendifinisian loop control, control methode, hubungan antara process variable yang hendak dikontrol dengan manipulated variabelnya ( yang di dalam dunia teori dibungai dengan Laplace Transform & Fourier Transform, namun dalam dunia simple control untuk tanki, vessel, perpipaan I think just “common sense” no need to do such kind eveluation or need for better?), PID methode, On-Off method, Split range, Cascade, Ratio, Overide, De-coupling, dll merupakan hal-hal yang dapat disumbangkan dunia kontrol untuk dunia industri oil & gas. PLC, DCS, Foundation Fieldbus adalah perangkat yang umum digunakan sebagai control devices untuk industri ini. Semua logika kontrol diprogram dan didefinisikan di dalam sistem kontrol.
Actuator / Final Element
Actuator yang umum dipake untuk mengontrol fluida adalah valve yang dapat berupa Control Valve, Shutdown Valve, Blowdown Valve, ataupun On-Off Valve. Ada berbagai macam body valve yang dipasangkan untuk valve-valve tersebut misalkan Globe, Ball, Butterfly, dan Gate. Final element yang lain yang dikontrol adalah Motor tetapi harus berinterface dengan Electrical Control melalui relay. Karakteristik control valve yang disebabkan oleh geometrinya terhadap flow, respon control valve terhadap signal, dan konsep perubahan signal elektrik menjadi pneumatic adalah beberapa diantara yang harus dikuasi di actuator.
Example:
Sampai sejauh mana scope disiplin ilmu ini digunakan dalam dunia Oil & Gas Offshore, berikut ini adalah sebuah cerita pendek tentangnya.
Study Case Arthit Process Platform PTT E&P
Instrumentasi dan Otomasi secara hierarki dibagi menjadi dua system besar yaitu Process Control System dan Safety Instrumented System. Process Control System (PCS) merupakan sistem penunjang proses monitoring, regulatory control, atau pun juga advance regulatory control. Safety Instrumented System (SIS) merupakan sistem yang diaplikasikan untuk menjamin safety yang meliputi Emergency Shutdown System (ESD) dan Fire & Gas System (F&G).
Ketika normal operasi maka fungsi kontrol reguler akan dijalankan oleh PCS secara kontinyu. Monitoring open loop, running simple closed loop antara tranmitter dan control valve yang bekerja mencari kestabilan performance kontrolnya adalah fungsi-fungsi sederhana dari PCS. Demikian juga halnya dengan cascade loop, ratio, split range, yang semuanya beroperasi untuk mencari kestabilan sepenuhnya juga ditangani oleh PCS. Numerik control calculation untuk simple closed loop, cascade, ratio, split range masih dipercayakan kepada iterasi jitu PID.
Sesuai dengan perkembangan teknologi yang mengutamakan efisiensi maka FIELDBUS FOUNDATION dipilih menjadi alternatif bagi distribusi pendelegasian sistem kontrolnya. Banyak fabrikan yang sudah mensenjatai devicenya dengan fieldbus, salah satunya adalah Yokogawa. Transmitter fieldbus yang digunakan pada Arthit CPP Platform Gulf of Thailand adalah Yokogawa EJA, control processingnya atau controllernya dipercayakan kepada Yokogawa Fieldbus CS 3000, dan Control Valve masih dipercayakan kepada Fieldvue Fisher Rosemount CCI. Meskipun sistem PCS pada platform ini merupakan campuran dari berbagai manufacture tetapi karena setiap device sudah dipersenjatai memakai approved protokol yaitu Foundation Fieldbus, maka tidak perlu diragukan lagi compatibilty-nya dalam menunjang sistem kontrol.
Safety system yang lebih dikenal dengan Safety Instrumented System (detail definisi dapat dbaca artikel lain di page ini -pen), terdiri atas ESD system dan F&G system. Keduanya saling berhubungan dan berinteraksi. ESD system menjalankan fungsi process safety hazard. Dalam P&ID dengan mudah SIS dapat diidentifikasi sebagai sebuah kondisi proses yang Hi-Hi atau Lo-Lo. Demikian halnya F&G system akan menjalankan fungsi ketika adanya gas atau fire yang timbul di area platform. Kritikal process menghasilkan effect shutdown demikian juga halnya kehadiran api atau gas berbahaya akan menghasilkan inisiasi shutdown sesuai dengan levelnya menurut cause and effect matrix. Untuk safety process, transmitter yang digunakan masih dari produk Yokogawa EJA dengan HART protocol, control system menggunakan Yokogawa Prosafe, sedangkan final element adalah simple digital output untuk solenoid dan atau relay. F&G system masih mengandalkan produk dari Detronic untuk gas dan flame detector, VESDA untuk High Sensitivity Smoke Detector, Manual Alarm Call Point dan ESD button menggunakan produk MEDC.
Demikian sekilas gambaran scope instrumentasi dan kontrol untuk offshore platform oil & gas facility.
Nova Kurniawan
Alumni Teknik Fisika ITB, sekarang bekerja sebagai commissioning engineer di J Ray McDermott
Filed under: Engineering | Tagged: Control Oil & Gas, Instrumentation Offshore, Measurement Oil & Gas, Oil & Gas Offshore
salam kenal mas ..
menurut pengamatan mas nova ..untuk teknologi Fieldbus di Oil & Gas mana yang paling laku Foundation Fieldbus, Profibus, Hart, Modbus, CANbus dll ?
saya membutuhkan alat contol untuk otomasimengontrol kilang minyak dan bafer gas..
kami butuh design dan cara kerjanya…
thks
Alat kontrol: pastinya DCS kalo mau beli, bisa hubungi yokogawa.
Design kontrol minyak: wah ini ga bisa gratis, bisa hubungi worley, ikpt, kbr untuk bikin desain.
senior gw….bantu gw masuk di t4 kerja abang dong…
hi,
ngmong soal instrumen ada yang tau ga distributor/sales/supplier untuk sensor temperatur tipe stem yang buat dipasang di pipe.
ta’ kasih specnya:
pt-100 3 wire; connection 1/2″; output 0-10vdc; length 100-150mm;range maunya si 0-50°c.
klo bisa scepatnya ya, plizz
Saya ngga pernah beli mas.. yang beli orang purchasing di engineering Jakarta or Singapore. Sory yaaa
Sebelumnya salam kenal For All dan narasumber,dan terima kasih atas jawaban dan respon atas pertanyaan saya.
Saya ingin menanyakan system dan perbedaan cara kerja dari product dari vendor Fisher seperti antara
Fisher 4195 dan 4196 Controller dan Fisher 4150 dan 4160 Controller ?,dan setahu type tersebut adalah Direct dan SUPPLY PRESSURE:
20 PSI (3-15 PSI)
35 PSI (6-30 PSI Output),hampir tidak ada perbedaan
karena setahu saya harga dari kedua type dari satu vendor tersebut sangat jauh berbeda.hhmmm,and thank
Mas,
Saya nggak hapal dengan kode2 Fisher 4195/4196/4150/4160 itu yang gmn. Kalaupun saya jawab, saya harus search dari website emersonprocess.com ya…percuma. Mending mas search dan evaluasi sendiri…ya. Atau contact orang PT. Control System Indonesia, saya kira dengan suka rela mereka akan menjelaskannya…
Sorry…
bagus artikel mas , membuat saya semakin paham tentang instrumentasi dan kontrol
halo semua nya
saya pingin belajar tentang engineering di instrumentation dan saya membutuhkan data2 atau software misalnya ND tools,calculation dll
saya berharap dari bapak2 bisa membantu saya atau mengirimkan software tersebut utk saya pelajari
ke nanainstrument@gmail.com
terimakasih banyak
nana
@pak alid : saya banyak memakai sensor type pt-100 pak, mungkin bapak bisa menghubungi PT.Kontrol Sistem http://www.ptcs.co.id (maaf saya tidak bermaksud iklan, dan saya tidak mempunyai hubungan apa² dengan PTCS, hanya sekedar membantu)
mudah²an bermanfaat!
@pak nova : request posting tentang telemetry system dunk pak
yang biasa banyak dipakai untuk komunikasi kontrol di remote² well tuh…
ditunggu ya pak
Sata baru sekali pegang yang berbau telemetry ketika review RTU…. itupun cuman 3 bulan-an di engineering, jadi belum punya bahan tulisan.
Kalau mas ciluk ada waktu buat berkontribusi, nanti saya add sebagai kontributor di blog saya
punya contoh2 plant yang lengkap dengan penjelasan dan equipmentnya gak om?? bwt simulasi PLC..tugas kuliah ,,hehe
@pak nova : wah…saya juga bukan engineer control system pak
, cuman buruh measurement saja. mungkin ada teman² yang lain yang mau kontribute….ayooo dong
Ass, mas…
Saya baru pindah kerja ke t4 baru sbg instrument engineer, tp dit4 baru ini, divisi instrument baru akan kick off dan orangnya baru sy sendiri… sbelumnya saya bekerja sebagai automation engineer selama hampir lima thn (ngurusin PLC, SCDA system dll). yg sy pingin tahu hanya sekedar manajemen, planning dan organisasi di instrumentasi…. terus terang selama ini sy kerjanya lebih ke aplikatif, sedangkan di t4 baru lebih banyak ngurusin administrasi.. maklum divisi barunya baru punya satu org… hehehe… help me please….
thanks ya mas
Mas Adi,
Kalo organisasi sih bisa flexible. Kalo yang saya tau di level engineering dibawah anda harus ada control engineer sama instrument engineer. Abis itu ada supervisor untuk lapangan dan supervisor untuk shop. Technician deh pasukan terdepannya. Planning? wah ini tergantung bidang perusahaannya mas ya. Sbg operation maintenance atau project base (konstruksi atau konsultan).
Ok mas makasih buat tanggapannya…
Perusahaan t4 sy bekerja memang hanya sebagai konsultan. yang saya ingin tanyakan lagi, apakah untuk urusan sizing valve termasuk scope kerja dari seorang instrument engineer?
Karena sebelumnya sebagai seorang automation engineer saya hanya bekerja lebih kepada programming PLC dan Scada system aja, tidak mengurusi spek dari peralatan2 intrument. oh iya mas, satu lagi nih boleh ngga di jelaskan prinsip kerja dari oriifice plate?, truss ada contoh program maintenance seperti apa yang harus saya siapkan sebagai seorang instrument engineer,… sorry nih mas jadi banyak nanya..
makasih ya…..
Sizing valve dan semua kalkulasi instrument devices adalah scope kerja instrument engineer. Prinsip kerja orifice bisa dichek di LINK saya InKontrol. Program maintenance saya belom punya pengalaman. Jadi kalo saya jawab nanti full ngarang hehehe..
wah…. thanks nih buat masukannya..
ngomong-ngomong ada ngga komunitas automation engineer? kalo ada pingin tuh ikutan…. hehehe
id-instrumentation@yahoogroups.com
subsribe aja
Sorry semua, kalau ada posisi untuk automation engineer di Oil n Gas bagi” dong sama kita,masalahnya saya belum pernah dapat pengalamn di Oil n Gas,saya rasa sama ya seperti di Pulp n Paper, saya sudah 11 tahun nih pengalamannya untuk electrical n Automation, kalau ada bantu gw ya,sdh bosan di PnP. mukhlis2008@gmail.com,thanks semua.
salam kenal,,,,, saya agus dari politreknik negeri bandung.
mw nanya nh,,,,, kalo ditempat anda bekerja khususnya pada powerplantnya nh, sistem yang digunakan pada boiler pada blowdown valvenya itu menggunakan sistem apa ? on-off method atm PID method ?
1 lagi nh,,,,,,, saya th mw bwt TA tntang sistem pengendalian blowdown valve dengan pengendali on-off. nah saya mw minta referensinya…… bisa ga ????????
Kita nggak pernah pake boiler. Kita pake turbine generator dengan bahan bakar gas or diesel. Blowdown valve adalah terminologi yang sangat common untuk valve yang berbentuk ball dengan fail to open. Blowdown valve dilengkapi dengan solenoid yang hanya bisa untuk menerima perintah digital. Kalau mas agus ingin menggunakan PID maka Blowdown Valve anda adalah bekerja dengan sinyal analog. Sejauh ini tidak pernah ada Blowdown valve yang menerima sinyal analog. Kecuali mas agus menciptakan itu……
[...] Posted by lifeschance on January 30, 2009 Instrumentation and Automation in Oil and Gas Industries - Offshore [...]
wah,,artikel bapak sangat bermanfaat buat sy,,gpp kan dijadiin referensi,,TQ b4((kebetulan sy krj dikampung bpk neh,,dibojonegoro(PLTGU cilegon) sekarang msh on the job training dibag instrument&control)) padahal basic sy mechanical,,tp gpplah asiklah belajar instrument
Welcome joint to the club. Saya dari Bojonegoro Jawa Timur, bukan Bojonegara Cilegon.
hi…again, just wanna ask u something
tolong diberi pencerahan tentang sistem otomatisasi yang tersentralisasi dan desentralisasi
thanks
one or two more question bro…please
i’ve been 15 years work in Power Plant, at PLTU & PLTGU Belawan, but i never knew the actual reason why the current signal of the transmitter must in 4 – 20 mA, or why in pneumatic the signal must be in 3 – 15 psi ?
someone told me that the reason is accuracy and efficincy, do u agree with that ?
Ass, Mas Yudi
Untuk 4-20 mA saya nulis di posting baru.. hanya resume dan hipotes bukan jawaban.
Wass, Nova
Mas Yudi, as I get from my reference; centralized automation refers to centralized control processing unit. Jadi entire plant diolah oleh satu processing unit. Katanya ini jaman dulu pernah digunakan (bener apa tidak saya tidak tau). Decentralized Automation; control processing unitnya dibagi-bagi untuk unit-unit tertentu, tetapi antar processing unitnya bisa saling berkomunikasi secara digital lewat TCP/IP, kabel coaxial, fiber optics dll. Sehingga tampilan MMI/HMI operator masih merupakan centralized information for entire plant. Saya sebenernya belom pernah liat yang centralized karena yang saya temui sekarang, controller selalu terdesentralized. Bahkan setiap equipment spt Compressor, Generator punya controller masing-masing tapi tidak independent dan bisa berkomunikasi dengan DCS dan dimonitor terpusat di DCS melalui komunikasi data bukan signal hard-wire.
thanks for the brightening
Assalamualaykum…
Nice blog pak novan, saya sekarang sedang mengerjakan control boiler. Boiler ini berbahan bakar HFO pada saat starting, namun akan pindah ke Coal ketika dia sudah running. Nah, bagaimana kontrol fuel flow, coal burner serta air flow buat combustion nya?? Apa ada rekan2 yang mau share ?
terima kasih..
Hai…….salam kenal….mohon pencerahan mengenai penggunaan actuator dalam SDV, ON-OFF valve dll, juga bagai mana pemilihan actuator yg tepat jika torsi tidak diketahui…sebagai info, saya product enginner yg menangani product actuator dan temperature transmitter….trimakasih banyak atas bantuan nya
Untuk memilih actuator, torsi dari valve harus diketahui. Kalau torsi dari valve tidak diketahui maka harus dicari tau torsinya. Karena actuator didesain untuk menggerakkan SDV atau On-Valve, bagaimana actuator mau didesain ketika beban / gaya yang hendak digerakkan tidak diketahui?. Kira-kira saja tidak akan tepat. Kecuali udah pengalaman dan hafal di luar kepala, tanpa data saya kira mereka sudah bisa memprediksi.
Mas Nova, salam kenal kembali dari kawan lama di T20,semoga masih inget… yo opo kabare cak!
Posting yg bagus cak, soalnya aku jg “terpaksa” belajar instrumen sekarang hehehe…
Kabare alhamdulillah apik…. Aku isih eling rambutmu yang tergerai indah penuh pesona ha..ha..ha.. Sak elingku awakmu kerjo ning Total? Hehe…wah nek sampeyan belajar sebentar wae langsung jago koyoke… Koyoke sampeyan santai & nongkrong ae biyen, tp ternyata bijine apik-apik…
hi semua nya saya baru nemu tongkrongan kaya gini. ane lg nyari2 sumber penambahan elmu engginer.
salam kenal bro…
ingin tambah elmu nih soal automation
Salam kenal Mas..
Mas minta pencerahannya….
Kalau plant baru kan pasti ada pre-comm n commisioning activities nich..pertanyaannya semua instrument device yang ada itu mesti di kalibrasi dulu tidak..??Apa hanya cukup dengan certificate dr mfg nya….dan siapa yg harus melakukan kegiatan kalibrasi tersebut.
kemudian instrument device apa saja yg mesti melibatkan migas atau third party seperti Sucofindo dll.Untuk kegiatan pre-comm n comm ini.
Terimakasih ya Mas…
Salam.
Hny
Mas Hanoy,
Bench calibration normalnya dilakukan di workshop. Online calibration dilakukan waktu pre-commissioning. Commissioning tidak kegiatan kalibrasi krn semua instrument online dan on service.
Yang harus melakukan ya company tersebut. Kalo kesulitan bisa disubcont-kan.
Saya belom pernah baca peraturan Dirjen Migas; sependek pengalaman yang harus melibatkan mereka adalah pop-test PSV, dan testing Flow Metering untuk Custody Transfer e.g. Sales Gas Metering.
Mas Nova,
Terimaksih informasinya…jadi untuk pelaksanaan calibration baik Bench calibration dan Online calibration tidak perlu ada witnes dari Dirjen Migas ya…!!!Selama Alat Calibrator-nya itu sudah terkalibrasi dari LAB yg di akredetasi oleh KAN.Kemudian kegiatan itu Cukup dilakukan oleh perusahaan contractor itu sendiri atau subcont, tapi apakah perusahaan dan subcont itu harus terkredetasi KAN ???…
Mohon pencerahannya…
Salam,
Mas Hanoy,
90% pengalaman saya utk projek2 di luar Indonesia. Jadi saya tidak pernah berhubungan dengan orang-orang Migas. Lebih baik download peraturan2 Dirjen Migas. Iya, betul alat kalibrasinya harus sudah terkalibrasi oleh LAB yang terakreditasi lembaga nasional. Karena saya di Batam, lebih banyak calibrator kita dikalibrasi ke Singapore, KAN-nya sana yang direfer. Yang terakreditasi adalah alatnya saja. Saya belom pernah melihat KAN melakukan akreditasi thd perusahaan.
Terimakasih atas pencerhanannya Kang…