EEHA: Electrical Equipment Hazardous Area (Part I)

Cerita Latar Belakang Hazardous Area

I wish I could write about EEHA (Electrical Equipment Hazardous Area) when I shall coordinate the training about this topic. Just only to coordinate actually, I am not the trainer. Preparing the room, projector, select the guy who should attend the training, preparing material for practical work, and prepare my self to become a good translator of the australian trainer for my fellow Indonesian guys. I am not a good english speaker anyway. You see my technical focus is getting lesser and lesser and I don’t know when is the time come when I will be totally away from instrumentation and control. I am spending lesser time to focus on instrumentation and control study however I am still trying to keep my self up date on the related topic in my spare time. And at least the EEHA will be my focus on 5-7 october 2010.

My pre-training knowledge

Industri Oil and Gas adalah industri yang memproduksi material untuk dibakar menghasilkan energi. Artinya meterial yang diproses di dalam per-pipaan dan equipment adalah material yang mudah dibakar. Ada banyak celah yang memungkinkan bahan bakar berupa oil atau gas menelusup keluar melalui sambungan-sambungan atau celah-celah dari equipment yang berputar sehingga keluar ke atmospher bercampur dengan oksigen. Campuran keduanya tidak menjadi bahaya asalkan tidak terdapat sumber ignition (percikan api). Konsep segitiga api yang sering diulang-ulang oleh safety officer. Satu setngah abad yang lalu ketika equipment dan perpipaan pada industri oil dan gas beroperasi dengan semata-mata hydraulik dan pneumatic, maka satu-duanya bahaya yang menjadi sumber percikan api adalah berasal dari kesalahan manusia atau kondisi ambient lingkungan. Kesalahan manusia antara lain merokok, ada koboi melintas dan tembak-tembakan di dekat fasilitas oil and gas, ada operator bakar jagung di dekat situ, dll. Kondisi ambient lingkungan misalnya terjadi kebakaran hutan di dekat industri yang menyebabkan suhu naik tinggi pada titik yang menyebabkan gas bisa terbakar. Jika hal-hal tersebut dapat dieliminasi maka fasilitas industri oil dan gas akan aman beroperasi.

Ketika Thomas Alfa Edison dengan intensif mulai memasyarakatkan listrik dan melistrikkan masyarakat melalui General Electric maka dunia perlistrikkan mulai berpenetrasi ke seluruh urat nadi masyarakat. Industri oil and gas termasuk yang lamban untuk bisa ditembus oleh ideologi-listrik ini. Wajar sekali lambat karena listrik bisa menimbulkan percikan api dan ancaman serius untuk industri oil and gas. Kalau koboi yang tembak-tembakan atau operator yang bakar jagung masih bisa diingatkan dan dicegah dengan persuasif dan represif, maka listrik berbeda, ia tidak bisa dinasehati. Harus diciptakan metode untuk mencegah dan membatasi listrik bocor baik berupa percikan atau energi kalornya sehingga listrik aman dipakai dilingkungan industri oil and gas. Metode ini juga untuk menghindarkan polisi mengambil kesimpulan bahwa setiap ada kebakaran jika tersangkanya susah ditemukan, maka arus pendek yang jadi terdakwa. Orang elektrik harus selalu memastikan bahwa arusnya selalu panjang-panjang, dan kalaupun terpaksa arus-nya jadi pendek maka ada suatu yang membatasi arus pendek itu sehingga tidak keluar ke atmosfer yang sudah dipenuhi gas dan oksigen.

Ada sebuah video yang mampu bercerita berjuta makna tentanng pentingnya konsep EEHA. Ada sebuah junction box yang diberi kaca. Di dalam dan di luar junction box terdapat flammable gas yang mudah meledak. Di dalam junction box dibuat simulasi short circuit yang menimbulkan ignition. Pada kasus pertama junction box mengikuti konsep EEHA dengan memperhatikan bahwa semua flamepath pada junction box ter-seal secara sempurna. Begitu short circuit disimulasikan maka terjadi ledakan di dalam junction box yang terlihat melalui kaca junction box (note: kacanya lebih kuat dari ledakan tersebut). Ledakan tidak merambat keluar, ia terlokalisasi di dalam junction box. Pada kasus ke-2 flame path yang berupa muka dari cover JB sedikit dirusak dengan memberikan scratch sehingga JB tidak ter-seal secara sempurna. Akibatnya ketika diberikan ignition dari dalam junction box maka ledakan dari dalam JB merambat ke luar dan barang yang berada di ruangan ikut terbakar. Nah gambaran diatas saya kira cukup menggambarkan begitu pentingnya EEHA pada dunia oil and gas.

Pengenalan Area Berbahaya

Sebelum terlalu jauh membahas ke electrical system protectionnya, maka diperlukan pengenalan terhadap lingkungan hazard di sekitarnya. Penggolongan area bahaya sepertinya belum disepakati oleh semua ahli hanya menjadi satu metode. Anyway, kita perlu ingat pokok-pokonya saja. Class, Division, Group, Zone, dan Temperature class.

Class: adalah penggolongan wujud fisik flammable material. Terdapat tiga kemungkinan material yang dapat terbakar yaitu Gas, Dust, dan Fiber. Class I (= Gas), Class II (=dust), Class III (=fiber). Dimanakah liquid? well, liquid pada hakikatnya yang bisa tersambar api adalah material flammable di permukaan liquid yang berfasa gas. Class ini biasa dipakai di North Amerika, maksudnya Amerika Serikat dan Kanada.

Division: adalah penggolongan tingkat frekuensi terdapatnya flammable material menurut NEC (Amerika Utara). Terdapat dua golongan saja yaitu Division I artinya terdapat flammable gas atau dust yang terus menerus atau intermittent pada konidisi normal. Division II artinya terdapat flammable gas atau dust hanya pada kondisi abnormal (incident atau accident). Division adalah paham yang digunakan di Amerika Serikat dan Kanada juga.

Group: adalah penggolongan tipe kimiawi gas atau dust yang hadir di atmosfer di area tersebut. Kalau yang hadir adalah gas maka penggolongannya di IEC / NEC adalah Group I (Methane) / Group D, Group IIA (Propane) /Group D, Group IIB (Ethylene) /Group C, Group IIC (Hydrogen & Acetylene) /Hydrogen Group D/Acetylene Group A. Sedangkan kalau flammable dust yang hadir digolongkan menjadi Group IIIA (combustible flying), IIIB (non-conductive dust), dan IIIC (conductive dust) contoh dustnya saya belum tau. Wah ribet juga ya kalau belum ada satu international standard. Jangan kan beginian colokan listrik yang sudah pasaran dipakai rumahan, tiap-tiap negara suka beda.

Zone: adalah metode yang serupa dengan gabungan Class dan Division. Ia menggolongkan wujud material dan tingkat frekuensi hadirnya flammable material tersebut menurut IEC/CENELEC. Untuk material yang berfasa gas maka penggolongannya: Zone 0 (Gas-Continuosly) Zone 1 (Gas-Intermittenly) Zone 2 (Gas-Abnormally). Untuk material yang berfasa dust maka penggolongannya: Zone 20 (Dust-Continuosly) Zone 21 (Dust-Intermittently) Zone 22 (Dust-Abnormally). Where is fiber? sepertinya sistem Zone tidak menggolongkan material bertipe fiber. Where is liquid? jawabannya sama dengan pertanyaan serupa pada pembahasan Class di atas.

Temperature: adalah maksimum temperature allowable pada permukaan dari suatu equipment. Sebagai contoh jika gas yang hadir di suatu atmosfer adalan Butane yang memiliki ignition temperature 365 degC maka temperature permukaan equipment maksimum allowable adalah dibawah 365 degC. Temperature class menurut Eropa digolongkan sebagai berikut: T1 = 450 degC, T2=300 degC, T3=200 degC, T4=135 degC, T5=100 degC, T6=85 degC. Maka untuk kasus gas Butane di atas maka temperature class dari electrical equipment adalah maksimum T2. Kalau ingin dipasang T3,T4,T5 atau T6 justeru akan semakin aman.

Nova Kurniawan

8 Responses

  1. Pastikan Electrically device yang digunakan di daerah Class I
    certified IS (Intrinsically Safe).

    Jika tidak terdapat label certified IS, maka Anda memerlukan barrier yang di-install di sisi Hazardous Area.

    Save day… every day…

  2. Kang Mana Kelanjutannya neh?

  3. […] EEHA: Electrical Equipment Hazardous Area (Part I) […]

  4. Adakah training provider yang menyelenggarakan training EEHA dalam waktu dekat ini?

  5. Nova, setahu saya Barrier itu di pasang di save area, bukannya di Hazardous area

  6. Mas Nova,
    Bila suatu Transmitter device certified with Exd Class I div IIA T3, actualnya terpasang di hazardous area yang menurut gambar adalah gas group IIC. Apa pengaruhnya terhadap transmitter tadi ? Apakah transmitter tersebut dapat menimbulkan bahaya jika berbeda gas grouping?

    Maturnuwun kang

  7. Mas Jonson, Group IIA ignition energynya 260 microjoules, Gas group IIC ignition energynya 85 microjoules. Jadi gas group IIC lebih berbahaya dibanding gas IIA. Alat yang dipasang di IIC harus lebih TOP MARKOTOP dibanding dengan alat yang dipasang di IIA. Alat yangbersertifikat IIC bisa dipasangan di IIA. Tetapi tidak sebaliknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: