Acoustic Gas Detector, Eh…Ultrasonic

Aneh aneh aja istilah instrumentasi ini. Mendengar istilah instrument saja orang awam akan langsung terpikir bahwa instrument adalah alat musik apalagi orang mendengar istilah instrument akustik maka tidak lain dan tidak bukan orang akan berfikir tentang konser musik. Apa tidak sebaiknya dunia instrumentasi industri dan akustik di industri segera memilih istilah lain? Acoustic instrument yang ingin saya bahas adalah alat yang digunakan di fasilitas minyak (instrument) menggunakan prinsip deteksi suara (akustik). Alat ini digunakan untuk mendeteksi kebocorang gas dengan mendeteksi desis suara bocoran gas pada suatu fasilitas produksi sumur gas unmanned (tidak ada orang) di remote area (bisa daerah terpencil, bisa tengah laut).

Saya tidak pernah melihat alat seperti ini selama 13 tahun dunia proyek konstruksi oil and gas. Ketika pertama kali pada tahun ke-14 pengalaman saya di dunia proyek saya melihat instrument yang namanya Acoustic Gas Detector (Dulunya cuma tahu Infra Red Gas Detector dan Open Path Gas Detector). Mendengar istilah Acoustic Gas Detector digunakan dalam Wellhead Platform yang akan saya bangun, ada sebuah kegembiraan yang tersembunyi pada diri saya. Kenapa tersembunyi? Karena saya newbie dan tidak tahu jadi tidak berani koar-koar alias banyak omong. Kenapa gembira? wahhh akhirnya ilmu dB (desibel) yang pernah saya pelajari dengan tetesan keringat dan air mata bisa dinostalgia kembali setalah 15 tahun. Ilmu tentang suara yang selalu berhubungan dengan desibel (BEL-nya dibaca seperti membaca BEL “kring…”kring”) dipelajari ditingkat 3 kuliah dengan mata kuliah yang bernama Akustik.

Pertanyaan legendaris tentang suara adalah kenapa suara satuannya Decibel bukan Centibel? Anda tahu kan Centi dan Deci itu sebenarnya saudara? Yang paling tua Terra, adiknya adalah Giga, diikuti Mega, Kilo, Hekto, Deka, Nama Sendiri, Deci, Centi, Mili, Mikro, dan Nano. Kenapa yang terpilih si Deci bukan si Centi? Dulu nyari jawabannya susah minta ampun. Kenapa satuan suara Decibel bukan Centibel?, Eh… Sekarang ada di Wikipidea (enak banget mahasiswa sekarang). Deci itu 1/10. Kalau centi 1/100. Padahal satuan suara yang commonly used adalah 1/10 * Satuan Bel (Satuan suara telephone dari Alexander Graham Bell) sehingga disebut Decibel yang dibaca De Si Bel (Bel “kring-kring”, bukan Bel “Sebel”). Nostalgia ini cukup membuat saya seperti kembali muda.

Kebingungan saya yang pertama adalah: Bagaimana mungkin sebuah sensor (yang pada dasarnya adalah microphone) ditugaskan untuk mendengarkan kebocoran gas? Bagaimana dia memisahkan dengan ambient suara atau background noise dari angin, ombak, kendaraan bermotor, percakapan manusia?. Ternyata oh ternyata Acoustic Gas Detector meng-ignore atau memfilter suara yang dihasilkan oleh ambient lingkungan (backgroun noise) atau audible sound dan hanya mengambil suara berfrekuensi tinggi di atas 20 kHz. Hmm…saya agak kecewa ketika mengetahui hal ini, kenapa? Karena ketika bicara di atas 20 kHz maka kita tidak lagi berbicara tentang akustik tetapi kita sudah bicara ultrasonic. Akustik dan Ultrasonik adalah 2 hal yang berbeda dan nostalgianya pun berbeda pula 😛 apalagi kenangan-kenangan praktikumnya. Orang berbicara akustik itu pada audible zone yaitu pada getaran berfrekuensi 20 Hz sampai 20 kHz. Di atas 20 kHz tidak bisa disebut sebagai akustik lagi tetapi sudah berubah menjadi Ultrasonic. Sehingga dengan sedikit mutung dan jengkel saya bilang Acoustic Gas Detector itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah Ultrasonic Gas Detector.

Dengan sedikit kecewa ya kita bahas sedikit saja tentang Ultrasonic Gas Detector. Ketika terjadi gas bocor dari dalam pipa bertekanan tinggi ke atmosphere (bertekanan atmospher 1 atm) melalui lubang yang cukup kecil (seberapa kecilnya? gak tau) maka laju gas akibat perubahan tekanan ini akan menimbulkan suara “hissing”. Suara hissing ini mempunyai broadband frekuensi yang sangat lebar sekali dari audible frequency (20 Hz – 20 kHz) sampai ke Ultrasonic Frequency (20 kHz – 10 MHz). Tetapi kalau lubangnya besar dan gasnya mengalir melalui lubang besar itu maka suara “hissing” ultrasonic tidak akan timbul. Jadi kalau bocornya besar maka Ultrasonic Gas Detector tidak akan berfungsi.

Anda percaya? Kalau gas bocor yang kedengaran bunyi hissing “sssss..ssss…ssss” sih saya percaya lha wong ada bunyinya karene frekuensinya pada audible frequency (20Hz – 20kHz). Tetapi kalau ada gas bocor akan menimbulkan suara yang tidak dapat saya dengar (Ultrasonic) bagaimana cara saya bisa percayanya? Aneh saja tapi hebat orang bisa berfikiran ke sana dan bikin alat. (Ahh… jangan-jangan suara gas yang lain yang bocor dan keluar dari tubuh manusia melalui lubang kecil juga bisa masuk ke suara ultrasonic juga? Who knows?). Karena saya tidak mengerti bagaimana ceritanya dan cara berfikirnya sampai ada orang yang bisa menyimpulkan bahwa gas bocor bisa menimbulkan suara ultrasonic (20 kHz – 10 MHz), maka terima saja sekarang memang begitu.

Dengan rentang frekuensi yang akan dideteksi Ultrasonic Gas Detector adalah frekuensi tinggi maka semua suara latar lingkungan: angin, ombak, manusia, mesin dengan frekuensi rendah (infrasonic) dan sedang (sonic) dengan mudah difilter. Sehingga Ultrasonic Gas Detector tidak terganggu aktivitas lingkungan. Suara latar bisa dibedakan dengan suara “hissing” gas bocor.

Setelah suara infrasonic dan sonic difilter selanjutnya Ilmu Ultrasonic dimainkan. Dan belajar lagi lah kalau Ultrasonic mah…. hehe..

Cilegon, 3 Feb 2018

Nova Kurniawan

 

 

Advertisements

One Response

  1. Nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: