Isi daripada Kapilari Transmitter

A: “Pak, isi di dalam Kapilari-nya transmitter ini adalah kabel kan?”

B: “Whattt… ^_^?… Ahhh masak…..:)?”

Artikel ini mungkin terlalu basic bagi sebagian orang, mohon dimaafkeun, karena memang saya hanya bisa share-nya tentang hal-hal yang basic-basic saja. Termasuk isi daripada kapilari pada suatu transmitter adalah hal yang terlalu basic untuk dibahas.. Tapi saya merasa perlu untuk dibahas untuk menghindarai percakapan seperti di atas.

Yang saya amati dari dulu isinya kapilari itu bukan berupa kabel tapi suatu liquid. (Emang saya pernah bongkar sampai moncrot? Belum sih hehe hanya teori). Liquid itu cairan seperti air, oli, dan cairan kimia, bukan berupa padatan seperti kabel dan bukan juga berupa gas seperti udara. Ketika mendapat bahan diskusi untuk meluruskan dan menerangkan tentang isi kapilari dengan buka-buka teori lagi, eh..eh..saya dapat ilmu baru (sebenernya lama sih, cuma baru tau aja) bahwa isinya kapilari selalu disebut sebagai fill fluid tidak pernah disebut sebagai liquid. Konsekuensinya adalah ketika isi kapilari disebut sebagai fluid maka dia bisa berfasa cair (liquid) dan juga bisa juga berfasa gas. Tapi kebetulan product-product kapilari transmitter dari manufacture yang cukup populer sekarang yang saya jumpai belum ada yang diisi gas, tapi semuanya diisi liquid dengan specific gravity sedikit di atas atau sedikit di bawah air. (Note SG Air = 1).

Pointnya adalah jangan pernah berfikir bahwa kapilari berisi kabel di dalamnya untuk transmisi signal elektrik. Fungsi dari kapilari adalah untuk meneruskan tekanan. Dan juga jangan makin jauh berfikir bahwa kapilari yang digelar di atas tray bisa terpengaruh oleh induksi elektromagnetik (karena kapilari bukan listrik).

Kenapa kapilari digunakan? Tidak pakai tubing saja?

Tujuan utamanya satu yaitu menghindari kontak langsung antara proses dengan sensor. Alasan kenapa perlu dihindari kontak langsung antara sensor dengan proses ada 2: Yang pertama adalah untuk melindungi sensor transmitter dari proses yang berbahaya misal sangat-sangat korosif, banyak pasir, kerikil yang sangat merusak sensor. Sedangkan yang kedua  adalah menghindari pocket atau “dead end” atau “ngantong” pada tubing biasa. Pocket ini menyebabkan pengembunan pada gas dan stagnasi cairan sehingga menggangu pembacaan sensor. Pocket juga bisa menyebabkan timbulnya microbial growth (contoh pada industri makanan: dalam tubing tumbuh jamur)  (Tony R. Kuphaldt: Lessons in Industrial Instrumentation).

Nama resmi transmitter yang menggunakan kapiler adalah Remote Diaphragm Seal Transmitter. Gambarnya seperti di bawah ini dengan bagian-bagian yang utama yaitu Flange w/ Diaphragm Seal, Capillary, dan Transmitter.

Remote Diaphragm Seal

Point-point yang perlu diperhatikan dari pemasangan suatu Remote Diaphragm Seal Transmitter dengan kapiler tube adalah:

Kapiler berisi cairan / liquid yang akan menimbulkan tekanan positive menambahkan tekanan proses pada transmitter ketika lokasi flange diaphragm seal lebih tinggi dari transmitter (Transmitter lebih rendah dari tapping). Sebaliknya ketika lokasi flange diaphragm seal lebih rendah dari transmitter maka cairan / liquid di dalam kapiler akan mengurangi tekanan proses (Transmitter lebih tinggi dari tapping). Dalam kalibrasi transmitter ini diperlukan kompensasi menghilangkan tekanan hydrostatic fill fluid kapiler dengan metode Zero Suppression atau sebaliknya Zero Elevation. Kedua aktivitis  bertujuan untuk meng-NOL-kan efect liquid kapiler pada transmitter. Metode kalibrasi ini zero suppresion dan zero elevation sudah pernah didiskusikan diblog ini.

Wet Leg

Point ke dua adalah jika Remote Diaphragm Seal Transmitter jumlahnya banyak dan kapilernya dilewatkan pada satu tray sehingga bercampur banyak kapiler (mirip indomie kriting) maka kita juga anda akan bingung. Sebelum jadi indomie maka harus ditekankan kepada tim konstruksi untuk memberi Marking di kapilari dan flange setidaknya diujung-ujungnya agar tau kapileri ini untuk diaphragm seal yang mana, untuk transmitter yang mana. Ingat ini bukan kabel sehingga anda tidak bisa continuity satu-satu tapi yang bisa dilakukan adalah inject pressure di diaphragm sealnya dan liat respond transmitter. Tapi aktivitas inject pressure perlu waktu lama hanya untuk sekedar mengurai indomie. Lebih mudah di marking saja sebelum jadi indomie dan dipasang berjajar layer by layer.

Batam, 25 Feb 2018

Nova Kurniawan

 

Advertisements

3 Responses

  1. Terima kasih pak Nova atas ilmu yg bermanfaat, sesuai aktual yg terpasang pada batch terakhir Yamal kemaren. Semoga jadi bahan masukan saya buat share bersama teman2 yg lain.

  2. Thanks Pak Nova pencerahannya

  3. nah keren ini gan artikelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: