Stroke ESDV dan Josss Howos Howos Nyembur Isi N2He dalam Pipa

Di post blog sebelumnya kisah saya tentang joss howos howos N2He karena Valve terbuka sendiri FAIL OPEN. Pada cerpen kali ini agak sedikit sebaliknya yaitu pipa yang berisi N2He sampai batas ESDV (Emergency Shut down Valve dengan Tipe Valve Fail Close). Joss Howos Howosnya karena ESDV justru sengaja dibuka karena teknisi tidak tahu bahwa pipanya sudah berisi N2He.

Pada EPC Wellhead Platform 2 orang Instrument Technician mendapatkan tugas untuk melakukan Function Test ESDV yang dipasang pada pipa menghubungkan Production Manifold dan Pipa ke Hook Up Portion yang nantinya akan di join ke Riser pada saat Hook Up campaign di laut. Ujung pipa yang nanti disambung ke Riser hanya ditutup oleh Plastik End Cap dan diikat.

PTW divalidasi dengan judul Function Test Valve WPXX All Deck (Lower Deck, Mezz Deck, Upper Deck). Ketika melakukan validasi teknisi hanya bilang ke pemberi ijin kerja sebagai kontinyu yang kemarin Pak. Tidak secara spesifik menerangkan atau meng-highlight posisi ESDV di P&ID. Karena tidak ada penekanan maka ini hanya dianggap pengetesan rutin. Validasi PTW ditandatangani.

Kemudian ke-2 orang Instrument Technician menyiapkan Function Test ESDV. Semua utility yang diperlukan seperti Instrument Air disiapkan dan signal DO dari PLC sudah siap. Control Room memberi aba-aba melalui radio bahwa ESDV akan open… 3,2,1…Go. Tiba-tiba Jooosss Howos Howos… Plastik Cap diujung Pipa Terbang entah kemana diiringi bunyi yang memekakkan telinga. Untungnya tidak ada orang yang tersambar cap ini. N2He yang ada di platform keluar semua melalui pipa yang terbuka ini.

Kedua orang Instrument Technician ini heran kenapa bisa ada N2He di upstream ESDV yang mereka buka? Padahal PTW sudah ditandatangani. Artinya mereka boleh melakukan ini dengan aman.

Sekali lagi ini hanya FIKSI seperti Novel Ghost Fleet. Kalau ada kemiripan mungkin hanya kebetulan. Pelajaran yang bisa diambil:

1. Instrument Technician tidak akan pernah tau isi pipa yang Valvenya atau ESDVnya akan mereka buka. Comm Manager yang harus men-STOP pekerjaan ini dan tidak menandatangani tangani PTW. Dan juga pipa yang sudah ada isinya wajib dikasih warning sign.

2. Aktivitas pengisian N2He dilakukan oleh Grup Lain pada malam hari untuk persiapan Leak Test pada sore harinya. P&ID harus di Mark Up bahwa N2He telah diisikan dan PTW Coordinator dan Comm Manager harus menyimpan mark-up ini di Permit Office. Semua yang sudah ‘live’ yang tertera di P&ID, Single Line, PCS/SIS Block Diagram harus di Mark Up di Permit Office.

3. PTW kegiatan Function Test dan commissioning lainnya harus menyertakan dokumen antara lain P&ID, Single Line, Block Diagram. Biasanya PTW hanya mengattachkan Procedure dan Lay Out Lokasi Deck. Informasisi lokasi tidak cukup membantu PTW Coordinator atau Comm Manager untuk bisa menangkap Bahaya Commissioning. Gambar Layout hanya membantu PTW Coord agar tidak bentrok dengan aktivitas konstruksi spt: Lifting, HotWork, dan Blasting. Gambar P&ID, Single Line, Block Diagram membantu PTW Coord dan Comm Manager membayangkan systemnya dan mengcross check terhadap ‘live’ status sebelum mereka tanda tangan permit.

4. Berlakukan Policy tegas tidak boleh ada menyimpan pneumatic (udara atau gas) dengan alasan apapun (persiapan, penghematan, dll) ketika di platform ada departemen / bagian lain yang masih bekerja. Ketika ada departemen lain bekerja maka pneumatic harus dikeluarkan kecuali hanya low pressure gas yang dipakai.untuk preservasi.

Jadi tidak ada alasan persiapan pengisian gas N2He padahal departemen lain masih bekerja sebelum waktu leak Test. Juga tidak ada alasan untuk menghemat N2He maka selesai leak Test satu sistem dipindah ke sistem lain yang hendak ditest biar hemat. Tidak ada istilah hemat-hemat an. Selesai leak test maka N2He dibuang… Tidak perlu disimpan.

Bojonegoro, 28 Mar 2018

Nova Kurniawan

Advertisements

Actuated / Instrumented Valve sebagai Batas Leak Test (GALT atau N2He) pada Pipa

Pada suatu pagi tiba-tiba terdengar suara “JOSSS HOWOSS HOWOSS” yang begitu tiba-tiba dan sangat bising sekali pada suatu EPCI Project pembuatan Wellhead Platform. Pipa-pipa kecil 2″yang belum disupport secara sempurna ujungnya bergoyang-goyang dan orang-orang berlarian keluar dari platform. Yaa… Ada aliran gas tiba-tiba yang keluar dari sistem perpipaan. Kenapa ini bisa terjadi?

Ada laporan bahwa Valve yang dipakai sebagai Batas aktivitas Leak Test Pipa yang semula tertutup tiba-tiba TERBUKA sehingga tekanan N2He yang dipakai Leak Test tersebar ke mana-mana (ke system pipa yang masih under Construction alias belum selesai) tanpa bisa dikendalikan gas keluar dari open flanges nyembur ke mana-mana. Orang yang kaget pada berhamburan…

Pertanyaannya Siapa yang membuka Valve tersebut? Jawabannya Tidak Ada yang membuka Pak.

Kok bisa terbuka sendiri?

Kalau Valve yang dipakai untuk ngeblock adalah Actuated / Instrumented Valve yang kondisinya FAIL OPEN jadi membuka sendiri kalau terjadi FAIL.

Jadi Valvenya FAIL? Kenapa bisa tiba-tiba FAIL? Karena Instrument Airnya tiba-tiba hilang.

Kenapa Instrument Airnya tiba-yiba hilang? Karena supply udara untuk Instrument Air itu dari Air Compressor. Dan Air Compressornya tiba-tiba mati.

Kenapa ketika Air Compressor mati Instrument air hilang Actuated Valve jadi fail? Kenapa tidak dipasang check Valve saja sehingga tekanan Instrument air gak bisa balik?

Gak bisa dong dipasang check valve karena Actuated Valve ini didesain kondisi amannya (Low Energi) pada posisi terbuka FAIL OPEN. Jadi begitu FAIL kemudian Valvenya terbuka maka artinya valve-nya berfungsi bagus. Lahhh terusss?

Yang salah adalah yang menjadikan Actuated Valve FAIL OPEN sebagai batas tanpa antisipasi terjadinya kondisi FAIL. Yang perlu dieliminasi adalah hal-hal yang menyebabkan jadi FAIL.

Anggap saja ini hanya kisah di atas adalah kisah FIKSI seperti Ghost Fleet.

Bagi orang Non-Instrument adanya suatu Valve yang bisa membuka sendiri tiba-tiba adalah keanehan. Menurut orang Non-Instrument, Valve itu normalnya adalah tertutup dan tidak bisa membuka sendiri kecuali dibuka atau diperintahkan untuk membuka.

Padahal bagi orang Instrument ada ada 2 macam Valve yaitu Fail Open dan Fail Close. Valve yang FAIL to OPEN artinya ENERGIZE to CLOSE atau POWER to CLOSE. Energize / Power bisa berupa pneumatic dan atau electric. Saya selalu menghindari penggunaan istilah NORMALLY OPEN karena kata normally memerlukan definisi lagi apa itu normal? Apakah normal itu ada energi atau tidak ada energi? Buat saya istilah Normally selalu perlu sedikit waktu untuk berfikir. Tetapi dengan istilah FAIL OPEN saya tidak perlu berfikir bahwa tanpa ada apa2 alias digeletakin aja Valve tersebut dalam posisi OPEN.

Pemilihan Actuated / Instrumented Valve dengan status FAIL OPEN sebagai batas suatu pengetesan kebocoran menyebabkan Valve tersebut harus ditutup ENERGIZE to CLOSE. Untuk menutup Valve tersebut perlu Energi / Power. Kalau Valve tersebut memerlukan energi pneumatic untuk menggerakkan aktuator maka diperlukan Instrument air. Kalau Valve tersebut punya solenoid yang perlu elektrik maka perlu disiapkan power 24VDC.

Syarat wajibnya adalah Valve yang jadi batas Leak Test tidak boleh FAIL.

Jika diperlukan intervensi manual pada Valve selama proses leak Test pipa, maka bisa dilakukan:

1. Jika Actuated Valve mempunya Hand Wheel untuk intervensi manual maka tutup Valve secara manual dengan HandWheel. Jangan pakai power dan tekanan.

2. Jika Actuated Valve tidak punya HandWheel maka pastikan udara di dalam Chamber actuator tidak bisa keluar. Udara dr Chamber bisa keluar melalui exhaust. Silahkan di plug semua exhaustnya Actuated Valve.

3. Ketika supply Instrument Air yang terhenti menyebabkan FAIL maka Supply udara Instrument Air harus diblock dari Instrument air manifold / block Valve IA line terdekat. Sehingga matinya Compressor tidak membuat tekanan jadi balik keluar dari valve.

4. Lepaskan tubing di Instrumented Valve Panel yang ke actuator ganti inject langsung udara pake selang kemudian selangnya di plug.

Intinya semua antisipasi manual harus dilakukan untuk mencegah Valve ini FAIL. Karena kalau terbuka N2 bisa keluar ke mana-mana termasuk ke system pipa yang masih dikerjakan orang konstruksi.

Bojonegoro, 27 Mar 2018

Nova Kurniawan

Precomm, Commissioning PTW, dan Team

Pada suatu Project EPCI pembangunan Offshore Platform di suatu daerah dalam fase commissioning.

Suatu siang vendor distribution board sedang ingin melakukan pengetesan outgoing distribusi power ke consumer. Vendor ini cukup berpengalaman untuk melakukan pengerjaan ini. Ketika distribution board ready dia bertanya kepada team commissioning apakah outgoing ke equipment ready dan bisa energize alias Breaker On? Team commissioning mengatakan semua ready dan PTW sudah in-place dan sudah ditandatangani.

Vendor kembali menanyakan ke tim commissioning tentang kesiapan field consumer dan dijawab siap. Tetapi tiba-tiba orang konstruksi yang kebetulan ada di situ bilang:

“Eh, itu ada 3 consumer yang barangnya belum dipasang jadi kabelnya masih gantung. Bahkan ujung kabel masih telanjang menyentuh platform. 3 Alat ini belum dipasang karena barang belum datang”.

Orang Commissioning kemudian ngeliat ke orang Konstruksi: “Oh begitu ya Pak?”

Konstruksi: “O… Iya, lha wong saya koordinator pemasangan alat listrik, gland, dan terminasi. Kok kamu gak tau padahal kan sudah pre-comm?”

Commissioning: “Yang pre-comm bukan kami pak, tapi team QC. Jadi kami tidak tau mana kabel yang belum dikonek”

Konstruksi: “Wah kok begitu. Lha ini PTW juga sudah di tanda tangan sama Area Authority? Siapa Area Authority nya? Ohhh orang Structure. Apa orang Structure tau Electrical System dan tau mana equipment yang ready dan mana belum di pasang atau kabel belum di konek?”

Commissioning: “Iya seharusnya atau wajibnya tau pak, format PTW-nya begitu, karena semua PTW baik utk Structure, Lifting, Welding, Konstruksi (Hot Work, Cold Work) dan Commissioning formatnya sama”.

Anggap saja percakapan di atas adalah FIKSI belaka. Tetapi kalau ada kejadian yang mirip sebaiknya improvement perlu dilakukan. Saya melihat beberapa improvement yang perlu saya Highlight yang terpenting. Kalau kawan Project ada tambahan dipersilahkan.

1. PTW commissioning harus berbeda dengan semua PTW yang lain (Hot Work, Cold Work: banyak aktivitas konstruksi).

2. Pemberi ijin kegiatan Commissioning adalah Area Authority Commissioning. Bisa Commissioning Manager atau Engineer yang didelegasikan oleh Commissioning Manager. Hanya dia yang boleh tanda tangan permit sebagai pemberi ijin. Penguasa area yang biasanya dipilih dari Area atau General Superintendent atau Manager area yang berdasarkan pengalaman saya tidak paham System / Sub-System commissioning mana yang ready atau tidak, juga tidak paham secara detail mana PTW yang boleh atau tidak boleh ditanda tangani.

3. Tim Commissioning yang hendak melakukan commissioning system tersebut harus “merasakan” Pre-comm. Kalau kegiatan Pre-comm menurut kebiasaan kontraktor dilakukan oleh tim lain yaitu QC group maka harus diadakan kegiatan tambahan tim commissioning untuk mengulang Pre-Commissioning 100% dan tidak boleh random. Commissioning Group tidak boleh percaya siapapun yang bilang biar Pre-comm dipegang QC dan orang commissioning nanti tinggal terima bersih. Ini salah…

Pengulangantu Pre-comm wajib agar Comm Technician mengetahui where about dan what about system tersebut.

4. Setelah team commissioning melakukan Pre-Commissioning maka team ini harus melakukan LOTO kepada breaker yang system consumernya tidak siap energize. LOTO hukumnya wajib.

Bojonegoro, 26 Maret 2018

Nova Kurniawan

Instrument 24 Volt DC Terbalik Polaritynya (+) dan (-), maka akibatnya adalah?

Zaman dulu waktu saya kecil punya radio buat dengerin sandiwara radio Saur Sepuh atau Tutur Tinular. Ketika radio mati karena Battery habis maka maka akan diganti Battery baru. Seringkali karena gak sengaja atau iseng pemasangan Battery tidak betul alias kebalik (+) dan (-) nya. Maka akibatnya RADIO tidak bunyi. Hanya tidak bunyi tidak pernah terbakar atau rusak gara-gara Battery terbalik. Untuk membetulkan radio yang tidak bunyi Batterynya tinggal dibalik dan abracadabra radio hidup lagi.

Zaman sekarang waktu saya sudah agak tua kadang mendengar beberapa kali Instrument dengan power 24 VDC katanya terbakar atau jebol komponennya elektroniknya, gara-garanya gosipnya karena Polarity (+) dan (-) kebalik. Yang ada dipikiran saya Woooouwww kok TIDAK canggih betul ya Instrument 24 VDC yang kita punya di abad 21 ini? Kok Instrument abad 21 ini kalah canggih sama Radio abad 20? 🙂

Ahhh Masak? Gampang rusak? Atau atau atau analisis dan berita gossip yang salah?

Bantu saya dong kenapa terbaliknya polaritas (+) dan (-) yang hanya menyebabkan arah vektor arus terbalik bisa menyebabkan orang berkesimpulan polarity kebalik bisa merusak instrument?

Sedangkan polarity (+) dan (-) terbalik di Radio tidak merusak. Mungkin Radio sudah sedemikian canggihnya mengimplementasikan konsep penyearah arus dengan kombinasi rangkaian dioda sehingga ketika terjadi polarity terbalik maka dioda akan mem-block arus yang terbalik tersebut sehingga radio aman dari efek merusak dari terbaliknya polarity (+) dan (-). Kapasitor aman.

Rangkaian elektronik pada radio akan terbakar jika terjadi over current dan atau over voltage.

Menurut hemat saya analisa rusaknya suatu Instrument elektronik 24 VDC harus dimulai dari kecurigaan adanya over voltage dan atau over current sebagaimana radio. Bukan karena (+) dan (-) terbalik. Over voltage dan over current banyak sekali kemungkinan penyebabnya. Yang paling sering dicurigai adalah aktivitas pengelasan yang menggunakan arus besar.

Batam, 05 Maret 2018