Precomm, Commissioning PTW, dan Team

Pada suatu Project EPCI pembangunan Offshore Platform di suatu daerah dalam fase commissioning.

Suatu siang vendor distribution board sedang ingin melakukan pengetesan outgoing distribusi power ke consumer. Vendor ini cukup berpengalaman untuk melakukan pengerjaan ini. Ketika distribution board ready dia bertanya kepada team commissioning apakah outgoing ke equipment ready dan bisa energize alias Breaker On? Team commissioning mengatakan semua ready dan PTW sudah in-place dan sudah ditandatangani.

Vendor kembali menanyakan ke tim commissioning tentang kesiapan field consumer dan dijawab siap. Tetapi tiba-tiba orang konstruksi yang kebetulan ada di situ bilang:

“Eh, itu ada 3 consumer yang barangnya belum dipasang jadi kabelnya masih gantung. Bahkan ujung kabel masih telanjang menyentuh platform. 3 Alat ini belum dipasang karena barang belum datang”.

Orang Commissioning kemudian ngeliat ke orang Konstruksi: “Oh begitu ya Pak?”

Konstruksi: “O… Iya, lha wong saya koordinator pemasangan alat listrik, gland, dan terminasi. Kok kamu gak tau padahal kan sudah pre-comm?”

Commissioning: “Yang pre-comm bukan kami pak, tapi team QC. Jadi kami tidak tau mana kabel yang belum dikonek”

Konstruksi: “Wah kok begitu. Lha ini PTW juga sudah di tanda tangan sama Area Authority? Siapa Area Authority nya? Ohhh orang Structure. Apa orang Structure tau Electrical System dan tau mana equipment yang ready dan mana belum di pasang atau kabel belum di konek?”

Commissioning: “Iya seharusnya atau wajibnya tau pak, format PTW-nya begitu, karena semua PTW baik utk Structure, Lifting, Welding, Konstruksi (Hot Work, Cold Work) dan Commissioning formatnya sama”.

Anggap saja percakapan di atas adalah FIKSI belaka. Tetapi kalau ada kejadian yang mirip sebaiknya improvement perlu dilakukan. Saya melihat beberapa improvement yang perlu saya Highlight yang terpenting. Kalau kawan Project ada tambahan dipersilahkan.

1. PTW commissioning harus berbeda dengan semua PTW yang lain (Hot Work, Cold Work: banyak aktivitas konstruksi).

2. Pemberi ijin kegiatan Commissioning adalah Area Authority Commissioning. Bisa Commissioning Manager atau Engineer yang didelegasikan oleh Commissioning Manager. Hanya dia yang boleh tanda tangan permit sebagai pemberi ijin. Penguasa area yang biasanya dipilih dari Area atau General Superintendent atau Manager area yang berdasarkan pengalaman saya tidak paham System / Sub-System commissioning mana yang ready atau tidak, juga tidak paham secara detail mana PTW yang boleh atau tidak boleh ditanda tangani.

3. Tim Commissioning yang hendak melakukan commissioning system tersebut harus “merasakan” Pre-comm. Kalau kegiatan Pre-comm menurut kebiasaan kontraktor dilakukan oleh tim lain yaitu QC group maka harus diadakan kegiatan tambahan tim commissioning untuk mengulang Pre-Commissioning 100% dan tidak boleh random. Commissioning Group tidak boleh percaya siapapun yang bilang biar Pre-comm dipegang QC dan orang commissioning nanti tinggal terima bersih. Ini salah…

Pengulangantu Pre-comm wajib agar Comm Technician mengetahui where about dan what about system tersebut.

4. Setelah team commissioning melakukan Pre-Commissioning maka team ini harus melakukan LOTO kepada breaker yang system consumernya tidak siap energize. LOTO hukumnya wajib.

Bojonegoro, 26 Maret 2018

Nova Kurniawan

Advertisements

3 Responses

  1. Tambahan pak Nova sesuai dengan yang saya alami, untuk project yang mempunyai budget atau project yang cukup besar biasanya di bedakan kordinator antara PTW construction dengan PTW commissioning, dan bila konstruksi+commissioning di lakukan di field yang sudah beroperasi maka akan ada lagi PTW operation dengan kordinator person yang lain lagi.
    Bila ada commissioning proses tetapi tidak ada PTW coordinator commissioning maka safety client dan Inspector client yg harus kerja extra untuk memastikan tidak ada accident selama prose’s commissioning.

  2. Jadi inget pernah jadi PTW Coordinator dan LOTO Trainer. Tapi untuk Construction. Bukan Commissioning. Prinsipnya sih sama. PTW dibuat untuk memastikan tidak terjadi conflicting work –> SAFETY. Begitu pula LOTO. Menarik untuk LOTO. Kalau pada Operasi/Pemeliharaan, LOTO untuk mengamankan yang sedang dipelihara (OFF) dari bagian lain yang beroperasi (ON). Sementara pada Testing/Commissioning, LOTO untuk mengamankan yang sedang bekerja di bagian yang belum ready (OFF) ketika ada bagian yang sedang dites (ON).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: