Instrument Air Dryness-Dew Point

Pada suatu pagi instrument commissioning team sedang menyiapkan instrument air untuk persiapan kegiatan commissioning. Ada compressor ada dryer ada hose yang mereka siapkan kemudian saya bertanya.

Question: “Ini untuk membuktikan udaranya kering bagaimana?

Answer : “Kita liat nanti pengecekan visual dari keluaran udaranya Pak. Kalau keluarannya tidak ada water / tidak basah berarti itu udara kering?”

Question: “Jadi tidak ada pengukuran kekeringan sampai dew point berapa?”

Answer : “Kami tidak pernah melakukan itu pak?”

Oooo…..

Kemudian saya tinggalkan tempat itu, tidak beberapa lama ada orang yang bertanggung jawab untuk pekerjaan tersebut datang dan engineer muda langsung menghampiri orang tersebut:

Engineer Muda: “Sir, our instrument air is ready and dry, please try and give your hand”

Kemudian orang asing tersebut memberikan tangannya dan disembur sedikit dengan keluaran udara yang keluar dari dryernya. Kemudian orang asing tersebut melihat tangannya beberapa saat.

Engineer Muda: “It is dry, right?”

Orang Asing : “Yes it is good (sambil nunjukin jempolnya), and go ahead for the commissioning”

Engineer Muda: “Yess….. Instrument Air kita diaccept Coi…lanjut-lanjut”

Saya liat ada yang kurang beres dari percakapan di atas. Ini kejadian riil yang pernah saya lihat. Beberapa hari kemudian saya dekati engineer muda yang yang mengecek kekeringan udara dengan tangan dan saya minta ke dia kalau ada proyek lain lagi jangan seperti itu karena tingkat kekeringan instrument air ada aturannya.

Kurang lebih rule of thumbnya sebagai berikut.

Aturan tingkat kekeringan instrument air adalah menurut ISA-S7.0.01 Quality Standard for Instrument Air. Tingkat kekeringan udara instrument air diukur dari dew point temperaturnya yaitu 10 degC di bawah suhu minimum lingkungan dimana instrument bisa terekspose.

Interpretasi saya pribadi dari membaca standar bahwa ketika Instrument minimum suhu lingkungannya adalah 10 degC maka maksimal dew point temperature untuk Instrument air adalah 0 degC. Atau menurut saya dibawahnya lagi lebih bagus sampai -10 degC atau -20 degC.

Pengalaman saya untuk proyek-proyek di iklim tropis instrument air dew point temperaturnya adalah maksimal -20 degC. Maksimal artinya jangan lebih tinggi lagi dew pointnya. Lebih rendah lagi katakanlah -30 degC atau -40 degC lebih bagus.

Arti dew point temperature adalah titik embun udara mulai menjadi moisture atau bintik water. Jadi dengan demikian udara yang memiliki dew point -20 degC hanya akan menjadi moisture embun ketika suhu udara lingkungan turun sampai -20 degC. Padahal di iklim tropis kita ini tidak mungkin suhu udara turun menjadi -20 degC. (Note: perhatikan juga pastikan line Instrument air tidak ada yg lewat proses referigrasi atau cooling yg menyebabkan suhu turun karena konduksi atau konveksi. Pastikan tidak ada. Karena bisa mempengaruhi suhu lingkungan). Artinya udara instrument air dengan dew point -20 degC di iklim tropis sangat aman sekali dari pengembunan alias udara tidak mungkin menjadi water.

Ketika udara aman maka semua aktuator akan aman dari serangan water. Kenapa takut water? Karena kalau diserang water akan korosi. Kalau misalnya dew point tidak diperhatikan maka beberapa hari ke depan di dalam Instrument anda yang menggunakan Instrument air akan penuh water.

Kalau proyek-proyek yang di kerjakan di North Sea atau di Rusia mungkin dew point harus lebih rendah lagi karena suhu udara bisa mencapai -45 degC. Sehingga dew point instrument air harus lebih rendah yaitu maksimal dewpoint -55degC.

Kalau Dew Point-nya Instrument air yang diperlukan makin rendah dan makin rendah maka bisa-bisa tidak bisa lagi memakai udara tetapi harus memakai nitrogen. Berapa dew point Nitrogen murni? Nitrogen murni tidak membawa sedikitpun uap air sehingga dew pointnya adalah -~ degC (minus tak hingga degree celcius / centigrade). Nitrogen murni artinya tidak ada komponen oksigennya (kalo ada oksigen berarti tidak murni). Ketika nitrogen tidak ada oksigen sama sekali maka tidak akan pernah ada reaksi yang menghasilkan H2O (water). Artinya nitrogen murni sangat-sangat kering tidak membawa unsur water. Karena kering maka tidak akan pernah mengembun.

Bagaimana untuk mengetahui bahwa udara instrument air kita mempunya dew point -20 degC? Tahap awalnya adalah pastikan bahwa dryer yang digunakan adalah dessicant dryer. Kalau bukan dessicant dryer sangat tidak mungkin bisa mencapai dew point -20degC apalagi -40 degC. Dryer yang bagus sering ada monitor display / LCD dew point outletnya. Kita bisa membaca dew point dari reading di air dryer dengan catatan ada sertifikat kalibrasinya yang masih valid.

Cara lain adalah kita beli dew point meter kemudian semburkan udara keluaran dryer ke dewpoint meter tersebut dan baca dew point temperaturnya. Ada error sedikit pastinya karena udara semburan sempat keluar ke atmosfer sebelum kena alat ukur.

Jadi hindari mengecek kekeringan dengan hanya menyemburkan ke tangan. Karena secara safetypun tidak baik. Partikel kecil besi masuk ke pori-pori kulit anda.

Batam, 26 May 2018

Nova Kurniawan

Advertisements

ISO/IEC-17025 Akreditasi Lab Kalibrasi dan Sertifikat Kompetensi Personel di Site Proyek

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendapatkan suatu pertanyaan dari customer ketika akan melakukan kalibrasi pertama kali pre-installatin instrument (Note: Bukan Instrument untuk Custody Transfer. Tapi normal process instrument).

Apakah fasilitas kalibrasi dan teknisi kalibrasi yang anda punya ini terakreditasi dan memenuhi standar kompetensi international?

Anda tau kan? yang biasa dipunyai oleh perusahaan konstruksi hanyalah Sertifikat Kalibrasi Master Equipment yang dikalibrasi oleh Third Party Lab. Sedangkan akreditasi fasilitas kalibrasi dan kompetensi personnel normalnya tidak ada (kalau anda punya maafkan saya, berarti saya ketinggalan zaman). Sertifikasi khusus dari Authorized Body seperti ISO-17025 untuk fasilitas kalibrasi dan kompetensi teknisi menurut saya masih terlalu mewah untuk dipunyai (setidaknya sampai saat ini) alias tidak perlu karena:

  1. Fasilitas kalibrasi yang dimiliki perusahaan konstruksi hanya sebuah bench calibration shop dan teknisinya mostly hanya melakukan function test pre-installation of instrument.
  2. Lagi pula masih jarang atau bahkan belum pernah perusahaan oil and gas meminta kontraktor di spesifikasi kontraknya untuk memenuhi akreditasi fasilitas kalibrasi seperti memenuhi ISO-17025.

Menurut saya fasilitas kalibrasi yang perlu mendapatkan sertifikat ISO-17025 adalah Laboratorium Kalibrasi resmi yang diaudit dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional). KAN merupakan merupakan authorized body setingkat nasional punya Indonesia yang mengimplementasikan ISO-17025 dan diakui oleh International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC).

Menghadapi kondisi tersebut maka berikut kejadian-kejadian yang saya catat sebagai diary saya di blog ini:

  1. Spesifikasi proyek yang dimiliki customer tidak pernah menyebutkan tentang akreditasi fasilitas kalibrasi atau menyebutkan code seperti ISO/IEC-17025.
  2. Akhirnya akreditasi fasilitas kalibrasi bisa dinegosiasikan alias tidak perlu ada.
  3. Tetapi benar bahwa spesifikasi proyek menyebutkan kompetensi personnel. Bagaimana membuktikan kompetensi? Apakah perlu secarik kertas?
  4. Menurut saya kompetensi bisa dibuktikan dengan praktek langsung, ketika teknisi sudah bisa melakukan kalibrasi sesuai dengan prosedure yang sudah diapproved oleh customer maka teknisi tersebut kompeten.
  5. Customer berpendapat kompetensi harus dibuktikan dengan selembar kertas yang ditandatangani oleh Third Party.
  6. Kenapa harus melibatkan Third Party ketika customer mampu menilai kompetensi? Rupanya ini analoginya seperti Jual beli mobil second. Diantara Penjual dan Pembeli ada montir dari bengkel yang akan menilai mobil tersebut layak atau tidak. Montir ini sebagai Third Party.
  7. Saya minta customer untuk membawa Third Party (Seperti Jual beli mobil yang bawa montir biasanya adalah pembeli bukan penjual) tetapi customer menolak. Third Party harus dari contractor dan harus well known international Third Party.
  8. Akhirnya dengan bantuan QC maka dibawalah Third Party cukup terkenal di dunia inspection service terutama tentang Material, Structural, Welding. Akhirnya disetujui oleh customer. Saya tidak cukup waktu untuk pelajari apakah well known Third Party inspection service untuk material, welding, structural bisa juga mempunya kompetensi untuk Third Party Instrument Calibration??? I did not really know.
  9. Yang penting waktu itu Third Party disetujui oleh customer. Kemudian Third Party datang menyaksikan proses kalibrasi dan dicocokan dengan Approved Procedure. Selesai semua prosesnya Third Party mengeluarkan selembar kertas yang cukup sakti berupa endorsement bahwa Teknisi Nama xxx sudah melakukan kalibrasi sesuai dengan “approved project procedure”. Note: bukan memenuhi International code tertentu.
  10. Selembar kertas ini bisa menyelesaikan masalah. Case Closed

Semua kejadian di atas adalah menyelesaikan masalah dalam kondisi kepepet. Seharusnya memang idealnya kedepan yang disebut aktivitas kalibrasi harus memiliki traceability sertifikat baik Equipment, juga kompetensi teknisi, akreditasi fasilitas yang mencakup environment, levelness, dan preservasi master kalibrasi. Traceability ini bisa diurut dari Internasional Laboratory (ILAC), Asia Pacific Laboratory (APLAC), National Laboratory (KAN), Lab Kalibrasi (PT. A, PT. B, dst), sampai ke user Calibration Shop.

Lab Kalibrasi harus memastikan bahwa Calibration shop menyimpan, meletakkan, dan menggunakan alat master kalibrasi secara benar oleh teknisi yang diapprove oleh Lab Tersebut. Jika traceability sertifikat dan kompetensi tidak dimiliki maka aktivitas Zeroing, Span, ensure Linearity yang dilakukan oleh teknisi di calibration shop hanya disebut sebagai Function Test bukan kalibrasi.

“DWT sudah tersertifikasi oleh Lab Kalibrasi memiliki Sertifikat Kalibrasi. Tetapi ketika digunakan ditaruh di meja yang miring, menurut anda berpengaruh apa tidak? Menurut saya iya karena weightnya tidak 100% dikonvert menjadi hydraulic pressure meskipun errornya kecil. Makanya kondisi fasilitas kalibrasi harus ada yang mengaudit dan memastikan”

Batam, May 23rd 2018

Nova Kurniawan

Ketika Pemasangan Tapping Hi-Lo Capillary Level Transmiter.. Semua Terbalik

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah mendapati kejadian “aneh” yaitu ketika dalam satu Platform pemasangan Tapping Hi-Lo Capillary Level Transmiter salah semuanya karena terbalik. Sekali lagi semuanya salah karena terbalik Hi-Lo nya. Disebut “aneh” karena:

1. Kalau yang salah hanya 1 atau 2 maka itu disebut Human Error karena salah / silaf baca marking Hi – Lo. Setiap manusia tempat silap dan salah. Kalau ini kejadiannya masih wajar tidak perlu dibahas.

2. Kalau yang salah banyak tapi ada juga yang bener artinya yang pasang belum ngerti dan tidak punya gambar referensi jadi dianggap cara pasangnya bebas-bebas saja. Sehingga dipasang ngasal dan ngacak Hi-Lo nya. Kalau ini kejadiannya tinggal ngasih tau.

3. Tetapi kalau yang salah adalah SEMUA dan konsisten maka pasti ada yang menyebabkan. Ini yang jadi curiousity saya.

Barang yang dipasang seperti di bawah ini. Diaphragm Seal Capillary Level Transmitter.

Saya curious kenapa salah itu bisa konsisten salah semua yaitu Hi-side Capillary dipasang diflange Nozzle sisi Atas Vessel dan Lo-side Capillary dipasang di flange Nozzle sisi Bawah Vessel. Akhirnya saya adakan small meeting dengan 4 orang termasuk saya.

(Saya masih merasa beruntung tidak mendapatkan jawaban: Hi itu artinya High (Tinggi) pak jadi harus dipasang di tempat lebih tinggi, sedangkan Lo artinya Low (Rendah) sehingga harus dipasang di sisi rendah. Masih beruntung tidak ada yang jawab ini, karena baru-baru ini saya mendapat cerita bahwa ada orang yang tugasnya melakukan inspeksi instalasi mempunyai pendapat seperti itu. Hi adalah High artinya Tinggi pasangnya harus lebih tinggi dari Lo yaitu Low yang artinya Rendah. Ini adalah fatal Miss understanding alias salah)

Yang dibilang kepada saya adalah:

1. Hook-Up tidak memberikan marking Hi dan Lo di kedua tapping point Capillary Level Transmiter.

2. Vessel Trim di Piping Isometric hanya menunjukkan Nozzle 1 dan Nozzel 2 dipasang LT-XXXX. Artinya 2 Nozzle dipasang LT yang sama. Ya memang betul karena LT-XXXX memerlukan 2 tapping Nozzle Hi dan Lo. Sayangnya Vessel Trim Isometric juga tidak menunjukkan yang mana dari LT-XXXX dipasang di Nozzle 1 dan yang mana dipasang di Nozzle 2. Kesimpulannya Isometric tidak membantu.

3. Kemudian lari ke P&ID pak. P&ID juga tidak pernah memberikan marking Hi dan Lo. Akhirnya di lapangan dibuat kesimpulan. Berdasarkan pengetahuan lapangan bahwa upstream atau Inlet itu selalu Hi-pressure dibanding downstream atau outlet. Kemudian mereka liat Inlet dari Vessel posisinya tinggi alias di atas, lebih tinggi dari Nozzle bagian atas untuk Level Transmiter. Sehingga menurut mereka Nozzle yang posisinya di Atas adalah Hi-pressure atau pressurenya lebih tinggi dari Nozzle yang di bawah. Sehingga oleh orang konstruksi lapangan, Nozzle yang posisinya di atas dikonek ke Hi dan Nozzle yang posisinya di bawah dikonek ke Lo. Jadinya ya begitu semua, kalau salah ya salah semua.

Di mana letak kesalahannya?

Hi-Lo pada Capillary Level Transmitter menunjukkan Hi-pressure dan Lo-pressure dari Level Transmitter. Bukan elevasi. Kenapa ngukur Level (ketinggian) perlu ngukur pressure (tekanan)? Sudah sering jadi topik blog ini jadi tak perlu dijelaskan. Hubungan klasiknya adalah pelajaran Fisika SMA bahwa p = rho.g.h (tekanan = masa jenis x percepatan gravitasi x ketinggian). Hubungan tekanan dan ketinggian baik-baik saja dan tetap bahagia dan harmonis. Meskipun tekanan mempunyai hubungan juga dengan flowarate bukan berarti tekanan sedang berselingkuh. Justeru hubungan tekanan dan flowrate juga merupakan hubungan resmi juga. Akan tetapi mereka tinggal di rumah yang berbeda. Rumah tangganya berbeda.

Pada kasus Vessel atau Tangki hubungan ketinggian cairan (level) dan tekanan selalu tekanan yang lebih tinggi pasti di bottom. Tekanan di dasar adalah tekanan permukaan + tekanan static liquid karena gravitasi. Jadi berapapun tekanan di atas Vessel maka tekanan dibawahnya selalu akan ditambahkan dengan tekanan static liquid. Artinya tekanan di bawah selalu lebih Hi dibandingkan dengan tekanan di atas Vessel (Lo). Ini adalah Rumah Tangga Tekanan dan Ketinggian Cairan.

Sedangkan istilah Inlet, Upstream selalu memiliki tekanan yang lebih tinggi dibandingkan tekanan Outlet, Downstream adalah Rumah Tangga Tekanan dan Aliran / atau differensialnya. Ini adalah Rumah Tangga tekanan yang lain. Rumah tangga berbeda maka konsep juga berbeda.

Lesson Learned

1. Hook Up Drawing harus mencantumkan marking Hi-Lo pada Instrument yang memiliki 2 tapping. 3 bulan lalu saya pernah ngomong ini juga pada fase As-Built dan ada saja engineer yang bilang: orang lapangan adalah orang pengalaman jadi sudah tau mana yang Lo dan mana yang Hi tak mungkin itu tertukar.

2. Biarkan saja Isometric Vessel Trim seperti gaya masing-masing piping engineer. Tetapi kalau piping engineer mau repot-repot IDC Isometric ke Instrument untuk menandai mana tapping Hi dan mana Lo. He is great Piping Engineer.

3. Jangan campur adukkan rumah tangga ketinggian liquid dengan rumah tangga aliran atau differensial pressure. Meskipun ke dua rumah tangga dihubungkan oleh satu suami yaitu tekanan. Tetapi cara pandang dan cara paham dikedua rumah tangga berbeda. Sikap suami yaitu tekanan pada rumah tangga liquid level dan sikap suami pada rumah tangga aliran (flow rate), differensial berbeda. Berbeda bukan berarti tidak adil.

4. Begitu berbicara level maka Hi-pressure selalu di bawah, Lo-pressure selalu lebih di atas. Tidak perlu liat-liat mana Inlet mana outlet. Tidak perlu melihat mana upstream mana downstream.

5. Begitu berbicara flow maka Hi-pressure selalu di upstream, dan Lo pressure di downstream. Fluidanya harus mengalir.

6. Begitu berbicara differensial pressure maka Hi-pressure selalu di upstream dan Lo pressure selalu di downstream. Fluidanya harus mengalir.

Batam, 07 Apr 2018

Nova Kurniawan

Jangan bilang Return, itu namanya Vent!

“Pak, itu bukan Return namanya, di mana-mana itu disebut Vent” teriak orang itu ke saya.

Saya sedang membaca P&ID Wellhead Control Panel yang mensuplay hydraulic ke Wellhead X-Mass Tree. Saya cari diagram supplynya dan diagram returnnya ke reservoir. Ketika saya melihat pompa pneumatic yang beroperasi dengan Instrument Gas saya cek keluaran gas hanya diberi simbol segitiga sehingga otomatis saya nyeletuk:

“Ini gas RETURN ke mana?”

Tiba-tiba seorang yang rupanya memperhatikan saya nyeletuk, bicara ke saya dgn tegas:

“Jangan sebut itu RETURN pak. Di mana-mana buangan gas disebut VENT. Dan simbol segitiga itu semua mengarah ke Vent Header”.

Saya bilang: “Ok. Noted”

Mungkin saya sedang keseleo lidah atau mungkin keseleo otak juga karena manusia tempatnya keseleo.

Baiklah sekedar Summary singkat biar gak sering keseleo bahwa controlled Valve dan atau actuated Valve itu menggunakan salah satu dari berikut:

Electric (Perlu power dari distribution board untuk menggerakkan)

Hydraulic (Perlu SUPPLY pressure hydraulic dari kontrol panel. Dan perlu RETURN untuk mengembalikan hydraulic fluid)

Pneumatic – Air (Perlu SUPPLY dari Instrument Air. Dan perlu EXHAUST langsung ke udara bebas)

Pneumatic – Gas (Perlu SUPPLY dari Instrument Gas. Dan perlu VENT yang disambungkan ke Vent Header yang nantinya akan dibuang ke tempat aman yang jauh)

05 May 2018

Nova Kurniawan