Jangan bilang Return, itu namanya Vent!

“Pak, itu bukan Return namanya, di mana-mana itu disebut Vent” teriak orang itu ke saya.

Saya sedang membaca P&ID Wellhead Control Panel yang mensuplay hydraulic ke Wellhead X-Mass Tree. Saya cari diagram supplynya dan diagram returnnya ke reservoir. Ketika saya melihat pompa pneumatic yang beroperasi dengan Instrument Gas saya cek keluaran gas hanya diberi simbol segitiga sehingga otomatis saya nyeletuk:

“Ini gas RETURN ke mana?”

Tiba-tiba seorang yang rupanya memperhatikan saya nyeletuk, bicara ke saya dgn tegas:

“Jangan sebut itu RETURN pak. Di mana-mana buangan gas disebut VENT. Dan simbol segitiga itu semua mengarah ke Vent Header”.

Saya bilang: “Ok. Noted”

Mungkin saya sedang keseleo lidah atau mungkin keseleo otak juga karena manusia tempatnya keseleo.

Baiklah sekedar Summary singkat biar gak sering keseleo bahwa controlled Valve dan atau actuated Valve itu menggunakan salah satu dari berikut:

Electric (Perlu power dari distribution board untuk menggerakkan)

Hydraulic (Perlu SUPPLY pressure hydraulic dari kontrol panel. Dan perlu RETURN untuk mengembalikan hydraulic fluid)

Pneumatic – Air (Perlu SUPPLY dari Instrument Air. Dan perlu EXHAUST langsung ke udara bebas)

Pneumatic – Gas (Perlu SUPPLY dari Instrument Gas. Dan perlu VENT yang disambungkan ke Vent Header yang nantinya akan dibuang ke tempat aman yang jauh)

05 May 2018

Nova Kurniawan

Advertisements

Measure Nozzle Orientation

It was a long time back story which still remain in my mind now because it was a mistake.

We had a task from our superior to evaluate and As-Built Wellhead chrismass tree orientation. We mean I and My Piping Counterpart. My task was simply because only to capture hydraulic tubing tapping point connection for Sub-Surface Safety Valve, Master Valve, and Wing Valve. I did not think it too much because I knew even I did not get exact degree tapping orientation I would be still going to able to do offset and bend the tubing to catch the tapping orientation on-site later by field run during next Hook Up campaign. This was an easy task, I just brought Measuring Tape and Camera with me. I just plan to draw a rough sketch where the tubing would be run and connected. Is it North-East, North-West,….etc? No detail degree orientation.

When I was ready to fly by chooper in the early morning, I got news that my piping counterpart did not able to go because he did not pass medical examination. And there was a dicision from Superior that I would the only one will go offshore and capture up-date or as-built piping scope Nozzle Orientation of Wellhead after drilling completion. I said that I only have Measuring Tape and Camera, how could I do that? They said…Just make many Photos of the Wellhead.

Then the story was a fail story of Measuring degree of Nozzle orientation. The actual nozzle direction of total 7 wellhead was varying any direction. Taking zero degree of Platform North and measure deviation againts zero by Measuring Tape was still not help designer much to get clear picture where was the exact orientation of the Nozzles. Many Photos, many measurement did not help much.

When I arrived back onshore somebody told me that on the certain standard pipe size (2″,3″,4″,6″,etc….) and schedule of piping (Std, Sch 80, etc…), all piping fitters know total round circle of pipes (circumference of circle). To determine the degree orientation on the pipe they just playing Measuring Tape. For example to determine 30 degree againts north zero hence (30/360) x Circumference of circle = They will get distance n mm againts zero in corresponding with 30 degree. On the other things to get a degree orientation by Measuring Tape is (distance from north zero to meaaured orientation degree / Total Circumference of circle piping round) x 360 degree. They Will get n degree Nozzle orientation againts zero.

Unfortunately Wellhead was not a piping with certain size and schedule and unlucky I did not measure the circumference of Wellhead circle. That was why the photos told nothing.

Sometimes people need to commit a memorable mistake to get a lesson learned.

Is there any other suggestion measure degree circular orientation by Measuring Tape only?

Batam, 12 Apr 2018

Nova Kurniawan

Stroke ESDV dan Josss Howos Howos Nyembur Isi N2He dalam Pipa

Di post blog sebelumnya kisah saya tentang joss howos howos N2He karena Valve terbuka sendiri FAIL OPEN. Pada cerpen kali ini agak sedikit sebaliknya yaitu pipa berisi N2He sampai batas ESDV (Emergency Shut down Valve dengan Tipe Valve Fail Close). Joss Howos Howosnya karena ESDV justru sengaja dibuka karena teknisi tidak tahu bahwa pipanya sudah berisi N2He.

Pada EPC Wellhead Platform 2 orang Instrument Technician mendapatkan tugas untuk melakukan Function Test ESDV yang dipasang pada pipa menghubungkan Production Manifold dan Pipa ke Hook Up Portion yang nantinya akan di join ke Riser pada saat Hook Up campaign di laut. Ujung pipa yang nanti disambung ke Riser hanya ditutup oleh Plastik End Cap dan diikat.

PTW divalidasi dengan judul Function Test Valve WPXX All Deck (Lower Deck, Mezz Deck, Upper Deck). Ketika melakukan validasi teknisi hanya bilang ke pemberi ijin kerja sebagai kontinyu yang kemarin Pak. Tidak secara spesifik menerangkan atau meng-highlight posisi ESDV di P&ID. Karena tidak ada penekanan maka ini hanya dianggap pengetesan rutin. Validasi PTW ditandatangani.

Kemudian ke-2 orang Instrument Technician menyiapkan Function Test ESDV. Semua utility yang diperlukan seperti Instrument Air disiapkan dan signal DO dari PLC sudah siap. Control Room memberi aba-aba melalui radio bahwa ESDV akan open… 3,2,1…Go. Tiba-tiba Jooosss Howos Howos… Plastik Cap diujung Pipa Terbang entah kemana diiringi bunyi yang memekakkan telinga. Untungnya tidak ada orang yang tersambar cap ini. N2He yang ada di platform keluar semua melalui pipa yang terbuka ini.

Kedua orang Instrument Technician ini heran kenapa bisa ada N2He di upstream ESDV yang mereka buka? Padahal PTW sudah ditandatangani. Artinya mereka boleh melakukan ini dengan aman.

Sekali lagi ini hanya FIKSI seperti Novel Ghost Fleet. Kalau ada kemiripan mungkin hanya kebetulan. Pelajaran yang bisa diambil:

1. Instrument Technician tidak akan pernah tau isi pipa yang Valvenya atau ESDVnya akan mereka buka. Comm Manager yang harus men-STOP pekerjaan ini dan tidak menandatangani tangani PTW. Dan juga pipa yang sudah ada isinya wajib dikasih warning sign.

2. Aktivitas pengisian N2He dilakukan oleh Grup Lain pada malam hari untuk persiapan Leak Test pada sore harinya. P&ID harus di Mark Up bahwa N2He telah diisikan dan PTW Coordinator dan Comm Manager harus menyimpan mark-up ini di Permit Office. Semua yang sudah ‘live’ yang tertera di P&ID, Single Line, PCS/SIS Block Diagram harus di Mark Up di Permit Office.

3. PTW kegiatan Function Test dan commissioning lainnya harus menyertakan dokumen antara lain P&ID, Single Line, Block Diagram. Biasanya PTW hanya mengattachkan Procedure dan Lay Out Lokasi Deck. Informasisi lokasi tidak cukup membantu PTW Coordinator atau Comm Manager untuk bisa menangkap Bahaya Commissioning. Gambar Layout hanya membantu PTW Coord agar tidak bentrok dengan aktivitas konstruksi spt: Lifting, HotWork, dan Blasting. Gambar P&ID, Single Line, Block Diagram membantu PTW Coord dan Comm Manager membayangkan systemnya dan mengcross check terhadap ‘live’ status sebelum mereka tanda tangan permit.

4. Berlakukan Policy tegas tidak boleh ada menyimpan pneumatic (udara atau gas) dengan alasan apapun (persiapan, penghematan, dll) ketika di platform ada departemen / bagian lain yang masih bekerja. Ketika ada departemen lain bekerja maka pneumatic harus dikeluarkan kecuali hanya low pressure gas yang dipakai.untuk preservasi.

Jadi tidak ada alasan persiapan pengisian gas N2He padahal departemen lain masih bekerja sebelum waktu leak Test. Juga tidak ada alasan untuk menghemat N2He maka selesai leak Test satu sistem dipindah ke sistem lain yang hendak ditest biar hemat. Tidak ada istilah hemat-hemat an. Selesai leak test maka N2He dibuang… Tidak perlu disimpan.

Bojonegoro, 28 Mar 2018

Nova Kurniawan

Actuated / Instrumented Valve sebagai Batas Leak Test (GALT atau N2He) pada Pipa

Pada suatu pagi tiba-tiba terdengar suara “JOSSS HOWOSS HOWOSS” yang begitu tiba-tiba dan sangat bising sekali pada suatu EPCI Project pembuatan Wellhead Platform. Pipa-pipa kecil 2″yang belum disupport secara sempurna ujungnya bergoyang-goyang dan orang-orang berlarian keluar dari platform. Yaa… Ada aliran gas tiba-tiba yang keluar dari sistem perpipaan. Kenapa ini bisa terjadi?

Ada laporan bahwa Valve yang dipakai sebagai Batas aktivitas Leak Test Pipa yang semula tertutup tiba-tiba TERBUKA sehingga tekanan N2He yang dipakai Leak Test tersebar ke mana-mana (ke system pipa yang masih under Construction alias belum selesai) tanpa bisa dikendalikan gas keluar dari open flanges nyembur ke mana-mana. Orang yang kaget pada berhamburan…

Pertanyaannya Siapa yang membuka Valve tersebut? Jawabannya Tidak Ada yang membuka Pak.

Kok bisa terbuka sendiri?

Ternyata Valve yang dipakai untuk ngeblock adalah Actuated / Instrumented Valve yang kondisinya FAIL OPEN jadi dia membuka sendiri kalau terjadi FAIL.

Jadi Valvenya FAIL? Kenapa bisa tiba-tiba FAIL? Karena e karena Instrument Airnya tiba-tiba hilang.

Kenapa Instrument Airnya tiba-tiba hilang? Karena e karena supply udara untuk Instrument Air itu langsung dari Air Compressor….Dan celakanya Air Compressornya tiba-tiba mati.

Kenapa ketika Air Compressor mati Instrument air hilang Actuated Valve jadi fail? Kenapa tidak dipasang check Valve saja sehingga tekanan Instrument air gak bisa balik?

Gak bisa dong dipasang check valve karena Actuated Valve ini didesain kondisi amannya (Low Energi) pada posisi terbuka FAIL OPEN. Jadi begitu FAIL kemudian Valvenya terbuka maka artinya valve-nya berfungsi bagus. Lahhh terusss?

Yang salah adalah yang menjadikan Actuated Valve FAIL OPEN sebagai batas tanpa antisipasi terjadinya kondisi FAIL. Yang perlu dieliminasi adalah hal-hal yang menyebabkan jadi FAIL.

Anggap saja ini hanya kisah di atas adalah kisah FIKSI seperti Ghost Fleet.

Bagi orang Non-Instrument adanya suatu Valve yang bisa membuka sendiri tiba-tiba adalah keanehan. Menurut orang Non-Instrument, Valve itu normalnya adalah tertutup dan tidak bisa membuka sendiri kecuali dibuka atau diperintahkan untuk membuka.

Padahal bagi orang Instrument ada ada 2 macam Valve yaitu Fail Open dan Fail Close. Valve yang FAIL to OPEN artinya ENERGIZE to CLOSE atau POWER to CLOSE. Energize / Power bisa berupa pneumatic dan atau electric. Saya selalu menghindari penggunaan istilah NORMALLY OPEN karena kata normally memerlukan definisi lagi apa itu normal? Apakah normal itu ada energi atau tidak ada energi? Buat saya istilah Normally selalu perlu sedikit waktu untuk berfikir. Tetapi dengan istilah FAIL OPEN saya tidak perlu berfikir bahwa tanpa ada apa2 alias digeletakin aja Valve tersebut dalam posisi OPEN.

Pemilihan Actuated / Instrumented Valve dengan status FAIL OPEN sebagai batas suatu pengetesan kebocoran menyebabkan Valve tersebut harus ditutup ENERGIZE to CLOSE. Untuk menutup Valve tersebut perlu Energi / Power. Kalau Valve tersebut memerlukan energi pneumatic untuk menggerakkan aktuator maka diperlukan Instrument air. Kalau Valve tersebut punya solenoid yang perlu elektrik maka perlu disiapkan power 24VDC.

Syarat wajibnya adalah Valve yang jadi batas Leak Test tidak boleh FAIL.

Jika diperlukan intervensi manual pada Valve selama proses leak Test pipa, maka bisa dilakukan:

1. Jika Actuated Valve mempunya Hand Wheel untuk intervensi manual maka tutup Valve secara manual dengan HandWheel. Jangan pakai power dan tekanan.

2. Jika Actuated Valve tidak punya HandWheel maka pastikan udara di dalam Chamber actuator tidak bisa keluar. Udara dr Chamber bisa keluar melalui exhaust. Silahkan di plug semua exhaustnya Actuated Valve.

3. Ketika supply Instrument Air yang terhenti menyebabkan FAIL maka Supply udara Instrument Air harus diblock dari Instrument air manifold / block Valve IA line terdekat. Sehingga matinya Compressor tidak membuat tekanan jadi balik keluar dari valve.

4. Lepaskan tubing di Instrumented Valve Panel yang ke actuator ganti inject langsung udara pake selang kemudian selangnya di plug.

Intinya semua antisipasi manual harus dilakukan untuk mencegah Valve ini FAIL. Karena kalau terbuka N2 bisa keluar ke mana-mana termasuk ke system pipa yang masih dikerjakan orang konstruksi.

Bojonegoro, 27 Mar 2018

Nova Kurniawan

Precomm, Commissioning PTW, dan Team

Pada suatu Project EPCI pembangunan Offshore Platform di suatu daerah dalam fase commissioning.

Suatu siang vendor distribution board sedang ingin melakukan pengetesan outgoing distribusi power ke consumer. Vendor ini cukup berpengalaman untuk melakukan pengerjaan ini. Ketika distribution board ready dia bertanya kepada team commissioning apakah outgoing ke equipment ready dan bisa energize alias Breaker On? Team commissioning mengatakan semua ready dan PTW sudah in-place dan sudah ditandatangani.

Vendor kembali menanyakan ke tim commissioning tentang kesiapan field consumer dan dijawab siap. Tetapi tiba-tiba orang konstruksi yang kebetulan ada di situ bilang:

“Eh, itu ada 3 consumer yang barangnya belum dipasang jadi kabelnya masih gantung. Bahkan ujung kabel masih telanjang menyentuh platform. 3 Alat ini belum dipasang karena barang belum datang”.

Orang Commissioning kemudian ngeliat ke orang Konstruksi: “Oh begitu ya Pak?”

Konstruksi: “O… Iya, lha wong saya koordinator pemasangan alat listrik, gland, dan terminasi. Kok kamu gak tau padahal kan sudah pre-comm?”

Commissioning: “Yang pre-comm bukan kami pak, tapi team QC. Jadi kami tidak tau mana kabel yang belum dikonek”

Konstruksi: “Wah kok begitu. Lha ini PTW juga sudah di tanda tangan sama Area Authority? Siapa Area Authority nya? Ohhh orang Structure. Apa orang Structure tau Electrical System dan tau mana equipment yang ready dan mana belum di pasang atau kabel belum di konek?”

Commissioning: “Iya seharusnya atau wajibnya tau pak, format PTW-nya begitu, karena semua PTW baik utk Structure, Lifting, Welding, Konstruksi (Hot Work, Cold Work) dan Commissioning formatnya sama”.

Anggap saja percakapan di atas adalah FIKSI belaka. Tetapi kalau ada kejadian yang mirip sebaiknya improvement perlu dilakukan. Saya melihat beberapa improvement yang perlu saya Highlight yang terpenting. Kalau kawan Project ada tambahan dipersilahkan.

1. PTW commissioning harus berbeda dengan semua PTW yang lain (Hot Work, Cold Work: banyak aktivitas konstruksi).

2. Pemberi ijin kegiatan Commissioning adalah Area Authority Commissioning. Bisa Commissioning Manager atau Engineer yang didelegasikan oleh Commissioning Manager. Hanya dia yang boleh tanda tangan permit sebagai pemberi ijin. Penguasa area yang biasanya dipilih dari Area atau General Superintendent atau Manager area yang berdasarkan pengalaman saya tidak paham System / Sub-System commissioning mana yang ready atau tidak, juga tidak paham secara detail mana PTW yang boleh atau tidak boleh ditanda tangani.

3. Tim Commissioning yang hendak melakukan commissioning system tersebut harus “merasakan” Pre-comm. Kalau kegiatan Pre-comm menurut kebiasaan kontraktor dilakukan oleh tim lain yaitu QC group maka harus diadakan kegiatan tambahan tim commissioning untuk mengulang Pre-Commissioning 100% dan tidak boleh random. Commissioning Group tidak boleh percaya siapapun yang bilang biar Pre-comm dipegang QC dan orang commissioning nanti tinggal terima bersih. Ini salah…

Pengulangantu Pre-comm wajib agar Comm Technician mengetahui where about dan what about system tersebut.

4. Setelah team commissioning melakukan Pre-Commissioning maka team ini harus melakukan LOTO kepada breaker yang system consumernya tidak siap energize. LOTO hukumnya wajib.

Bojonegoro, 26 Maret 2018

Nova Kurniawan

Instrument 24 Volt DC Terbalik Polaritynya (+) dan (-), maka akibatnya adalah?

Zaman dulu waktu saya kecil punya radio buat dengerin sandiwara radio Saur Sepuh atau Tutur Tinular. Ketika radio mati karena Battery habis maka maka akan diganti Battery baru. Seringkali karena gak sengaja atau iseng pemasangan Battery tidak betul alias kebalik (+) dan (-) nya. Maka akibatnya RADIO tidak bunyi. Hanya tidak bunyi tidak pernah terbakar atau rusak gara-gara Battery terbalik. Untuk membetulkan radio yang tidak bunyi Batterynya tinggal dibalik dan abracadabra radio hidup lagi.

Zaman sekarang waktu saya sudah agak tua kadang mendengar beberapa kali Instrument dengan power 24 VDC katanya terbakar atau jebol komponennya elektroniknya, gara-garanya gosipnya karena Polarity (+) dan (-) kebalik. Yang ada dipikiran saya Woooouwww kok TIDAK canggih betul ya Instrument 24 VDC yang kita punya di abad 21 ini? Kok Instrument abad 21 ini kalah canggih sama Radio abad 20? šŸ™‚

Ahhh Masak? Gampang rusak? Atau atau atau analisis dan berita gossip yang salah?

Bantu saya dong kenapa terbaliknya polaritas (+) dan (-) yang hanya menyebabkan arah vektor arus terbalik bisa menyebabkan orang berkesimpulan polarity kebalik bisa merusak instrument?

Sedangkan polarity (+) dan (-) terbalik di Radio tidak merusak. Mungkin Radio sudah sedemikian canggihnya mengimplementasikan konsep penyearah arus dengan kombinasi rangkaian dioda sehingga ketika terjadi polarity terbalik maka dioda akan mem-block arus yang terbalik tersebut sehingga radio aman dari efek merusak dari terbaliknya polarity (+) dan (-). Kapasitor aman.

Rangkaian elektronik pada radio akan terbakar jika terjadi over current dan atau over voltage.

Menurut hemat saya analisa rusaknya suatu Instrument elektronik 24 VDC harus dimulai dari kecurigaan adanya over voltage dan atau over current sebagaimana radio. Bukan karena (+) dan (-) terbalik. Over voltage dan over current banyak sekali kemungkinan penyebabnya. Yang paling sering dicurigai adalah aktivitas pengelasan yang menggunakan arus besar.

Batam, 05 Maret 2018

Isi daripada Kapilari Transmitter

A: “Pak, isi di dalam Kapilari-nya transmitter ini adalah kabel kan?”

B: “Whattt… ^_^?… Ahhh masak…..:)?”

Artikel ini mungkin terlalu basic bagi sebagian orang, mohon dimaafkeun, karena memang saya hanya bisa share-nya tentang hal-hal yang basic-basic saja. Termasuk isi daripada kapilari pada suatu transmitter adalah hal yang terlalu basic untuk dibahas.. Tapi saya merasa perlu untuk dibahas untuk menghindarai percakapan seperti di atas.

Yang saya amati dari dulu isinya kapilari itu bukan berupa kabel tapi suatu liquid. (Emang saya pernah bongkar sampai moncrot? Belum sih hehe hanya teori). Liquid itu cairan seperti air, oli, dan cairan kimia, bukan berupa padatan seperti kabel dan bukan juga berupa gas seperti udara. Ketika mendapat bahan diskusi untuk meluruskan dan menerangkan tentang isi kapilari dengan buka-buka teori lagi, eh..eh..saya dapat ilmu baru (sebenernya lama sih, cuma baru tau aja) bahwa isinya kapilari selalu disebut sebagaiĀ fill fluidĀ tidak pernah disebut sebagai liquid. Konsekuensinya adalah ketika isi kapilari disebut sebagai fluidĀ maka dia bisa berfasa cair (liquid) dan juga bisa juga berfasa gas. Tapi kebetulan product-product kapilari transmitter dari manufacture yang cukup populer sekarang yang saya jumpai belum ada yang diisi gas, tapi semuanya diisi liquid dengan specific gravity sedikit di atas atau sedikit di bawah air. (Note SG Air = 1).

Pointnya adalah jangan pernah berfikir bahwa kapilari berisi kabel di dalamnya untuk transmisi signal elektrik. Fungsi dari kapilari adalah untuk meneruskan tekanan. Dan juga jangan makin jauh berfikir bahwa kapilari yang digelar di atas tray bisa terpengaruh oleh induksi elektromagnetik (karena kapilari bukan listrik).

Kenapa kapilari digunakan? Tidak pakai tubing saja?

Tujuan utamanya satu yaitu menghindari kontak langsung antara proses dengan sensor. Alasan kenapa perlu dihindari kontak langsung antara sensor dengan proses ada 2: Yang pertama adalah untuk melindungi sensor transmitter dari proses yang berbahaya misal sangat-sangat korosif, banyak pasir, kerikil yang sangat merusak sensor. Sedangkan yang keduaĀ  adalah menghindari pocket atau “dead end” atau “ngantong” pada tubing biasa. Pocket ini menyebabkan pengembunan pada gas dan stagnasi cairan sehingga menggangu pembacaan sensor. Pocket juga bisa menyebabkan timbulnya microbial growth (contoh pada industri makanan: dalam tubing tumbuh jamur)Ā  (Tony R. Kuphaldt: Lessons in Industrial Instrumentation).

Nama resmi transmitter yang menggunakan kapiler adalah Remote Diaphragm Seal Transmitter. Gambarnya seperti di bawah ini dengan bagian-bagian yang utama yaitu Flange w/ Diaphragm Seal, Capillary, dan Transmitter.

Remote Diaphragm Seal

Point-point yang perlu diperhatikan dari pemasangan suatu Remote Diaphragm Seal Transmitter dengan kapiler tube adalah:

Kapiler berisi cairan / liquid yang akan menimbulkan tekanan positive menambahkan tekanan proses pada transmitter ketika lokasi flange diaphragm seal lebih tinggi dari transmitter (Transmitter lebih rendah dari tapping). Sebaliknya ketika lokasi flange diaphragm seal lebih rendah dari transmitter maka cairan / liquid di dalam kapiler akan mengurangi tekanan proses (Transmitter lebih tinggi dari tapping). Dalam kalibrasi transmitter ini diperlukan kompensasi menghilangkan tekanan hydrostatic fill fluid kapiler dengan metode Zero Suppression atau sebaliknya Zero Elevation. Kedua aktivitisĀ  bertujuan untuk meng-NOL-kan efect liquid kapiler pada transmitter. Metode kalibrasi ini zero suppresion dan zero elevation sudah pernah didiskusikan diblog ini.

Wet Leg

Point ke dua adalah jika Remote Diaphragm Seal Transmitter jumlahnya banyak dan kapilernya dilewatkan pada satu tray sehingga bercampur banyak kapiler (mirip indomie kriting) maka kita juga anda akan bingung. Sebelum jadi indomie maka harus ditekankan kepada tim konstruksi untuk memberi Marking di kapilari dan flange setidaknya diujung-ujungnya agar tau kapileri ini untuk diaphragm seal yang mana, untuk transmitter yang mana. Ingat ini bukan kabel sehingga anda tidak bisa continuity satu-satu tapi yang bisa dilakukan adalah inject pressure di diaphragm sealnya dan liat respond transmitter. Tapi aktivitas inject pressure perlu waktu lama hanya untuk sekedar mengurai indomie. Lebih mudah di marking saja sebelum jadi indomie dan dipasang berjajar layer by layer.

Batam, 25 Feb 2018

Nova Kurniawan