ISO/IEC-17025 Akreditasi Lab Kalibrasi dan Sertifikat Kompetensi Personel di Site Proyek

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendapatkan suatu pertanyaan dari customer ketika akan melakukan kalibrasi pertama kali pre-installatin instrument (Note: Bukan Instrument untuk Custody Transfer. Tapi normal process instrument).

Apakah fasilitas kalibrasi dan teknisi kalibrasi yang anda punya ini terakreditasi dan memenuhi standar kompetensi international?

Anda tau kan? yang biasa dipunyai oleh perusahaan konstruksi hanyalah Sertifikat Kalibrasi Master Equipment yang dikalibrasi oleh Third Party Lab. Sedangkan akreditasi fasilitas kalibrasi dan kompetensi personnel normalnya tidak ada (kalau anda punya maafkan saya, berarti saya ketinggalan zaman). Sertifikasi khusus dari Authorized Body seperti ISO-17025 untuk fasilitas kalibrasi dan kompetensi teknisi menurut saya masih terlalu mewah untuk dipunyai (setidaknya sampai saat ini) alias tidak perlu karena:

  1. Fasilitas kalibrasi yang dimiliki perusahaan konstruksi hanya sebuah bench calibration shop dan teknisinya mostly hanya melakukan function test pre-installation of instrument.
  2. Lagi pula masih jarang atau bahkan belum pernah perusahaan oil and gas meminta kontraktor di spesifikasi kontraknya untuk memenuhi akreditasi fasilitas kalibrasi seperti memenuhi ISO-17025.

Menurut saya fasilitas kalibrasi yang perlu mendapatkan sertifikat ISO-17025 adalah Laboratorium Kalibrasi resmi yang diaudit dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional). KAN merupakan merupakan authorized body setingkat nasional punya Indonesia yang mengimplementasikan ISO-17025 dan diakui oleh International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC).

Menghadapi kondisi tersebut maka berikut kejadian-kejadian yang saya catat sebagai diary saya di blog ini:

  1. Spesifikasi proyek yang dimiliki customer tidak pernah menyebutkan tentang akreditasi fasilitas kalibrasi atau menyebutkan code seperti ISO/IEC-17025.
  2. Akhirnya akreditasi fasilitas kalibrasi bisa dinegosiasikan alias tidak perlu ada.
  3. Tetapi benar bahwa spesifikasi proyek menyebutkan kompetensi personnel. Bagaimana membuktikan kompetensi? Apakah perlu secarik kertas?
  4. Menurut saya kompetensi bisa dibuktikan dengan praktek langsung, ketika teknisi sudah bisa melakukan kalibrasi sesuai dengan prosedure yang sudah diapproved oleh customer maka teknisi tersebut kompeten.
  5. Customer berpendapat kompetensi harus dibuktikan dengan selembar kertas yang ditandatangani oleh Third Party.
  6. Kenapa harus melibatkan Third Party ketika customer mampu menilai kompetensi? Rupanya ini analoginya seperti Jual beli mobil second. Diantara Penjual dan Pembeli ada montir dari bengkel yang akan menilai mobil tersebut layak atau tidak. Montir ini sebagai Third Party.
  7. Saya minta customer untuk membawa Third Party (Seperti Jual beli mobil yang bawa montir biasanya adalah pembeli bukan penjual) tetapi customer menolak. Third Party harus dari contractor dan harus well known international Third Party.
  8. Akhirnya dengan bantuan QC maka dibawalah Third Party cukup terkenal di dunia inspection service terutama tentang Material, Structural, Welding. Akhirnya disetujui oleh customer. Saya tidak cukup waktu untuk pelajari apakah well known Third Party inspection service untuk material, welding, structural bisa juga mempunya kompetensi untuk Third Party Instrument Calibration??? I did not really know.
  9. Yang penting waktu itu Third Party disetujui oleh customer. Kemudian Third Party datang menyaksikan proses kalibrasi dan dicocokan dengan Approved Procedure. Selesai semua prosesnya Third Party mengeluarkan selembar kertas yang cukup sakti berupa endorsement bahwa Teknisi Nama xxx sudah melakukan kalibrasi sesuai dengan “approved project procedure”. Note: bukan memenuhi International code tertentu.
  10. Selembar kertas ini bisa menyelesaikan masalah. Case Closed

Semua kejadian di atas adalah menyelesaikan masalah dalam kondisi kepepet. Seharusnya memang idealnya kedepan yang disebut aktivitas kalibrasi harus memiliki traceability sertifikat baik Equipment, juga kompetensi teknisi, akreditasi fasilitas yang mencakup environment, levelness, dan preservasi master kalibrasi. Traceability ini bisa diurut dari Internasional Laboratory (ILAC), Asia Pacific Laboratory (APLAC), National Laboratory (KAN), Lab Kalibrasi (PT. A, PT. B, dst), sampai ke user Calibration Shop.

Lab Kalibrasi harus memastikan bahwa Calibration shop menyimpan, meletakkan, dan menggunakan alat master kalibrasi secara benar oleh teknisi yang diapprove oleh Lab Tersebut. Jika traceability sertifikat dan kompetensi tidak dimiliki maka aktivitas Zeroing, Span, ensure Linearity yang dilakukan oleh teknisi di calibration shop hanya disebut sebagai Function Test bukan kalibrasi.

“DWT sudah tersertifikasi oleh Lab Kalibrasi memiliki Sertifikat Kalibrasi. Tetapi ketika digunakan ditaruh di meja yang miring, menurut anda berpengaruh apa tidak? Menurut saya iya karena weightnya tidak 100% dikonvert menjadi hydraulic pressure meskipun errornya kecil. Makanya kondisi fasilitas kalibrasi harus ada yang mengaudit dan memastikan”

Batam, May 23rd 2018

Nova Kurniawan

Advertisements

Ketika Pemasangan Tapping Hi-Lo Capillary Level Transmiter.. Semua Terbalik

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah mendapati kejadian “aneh” yaitu ketika dalam satu Platform pemasangan Tapping Hi-Lo Capillary Level Transmiter salah semuanya karena terbalik. Sekali lagi semuanya salah karena terbalik Hi-Lo nya. Disebut “aneh” karena:

1. Kalau yang salah hanya 1 atau 2 maka itu disebut Human Error karena salah / silaf baca marking Hi – Lo. Setiap manusia tempat silap dan salah. Kalau ini kejadiannya masih wajar tidak perlu dibahas.

2. Kalau yang salah banyak tapi ada juga yang bener artinya yang pasang belum ngerti dan tidak punya gambar referensi jadi dianggap cara pasangnya bebas-bebas saja. Sehingga dipasang ngasal dan ngacak Hi-Lo nya. Kalau ini kejadiannya tinggal ngasih tau.

3. Tetapi kalau yang salah adalah SEMUA dan konsisten maka pasti ada yang menyebabkan. Ini yang jadi curiousity saya.

Barang yang dipasang seperti di bawah ini. Diaphragm Seal Capillary Level Transmitter.

Saya curious kenapa salah itu bisa konsisten salah semua yaitu Hi-side Capillary dipasang diflange Nozzle sisi Atas Vessel dan Lo-side Capillary dipasang di flange Nozzle sisi Bawah Vessel. Akhirnya saya adakan small meeting dengan 4 orang termasuk saya.

(Saya masih merasa beruntung tidak mendapatkan jawaban: Hi itu artinya High (Tinggi) pak jadi harus dipasang di tempat lebih tinggi, sedangkan Lo artinya Low (Rendah) sehingga harus dipasang di sisi rendah. Masih beruntung tidak ada yang jawab ini, karena baru-baru ini saya mendapat cerita bahwa ada orang yang tugasnya melakukan inspeksi instalasi mempunyai pendapat seperti itu. Hi adalah High artinya Tinggi pasangnya harus lebih tinggi dari Lo yaitu Low yang artinya Rendah. Ini adalah fatal Miss understanding alias salah)

Yang dibilang kepada saya adalah:

1. Hook-Up tidak memberikan marking Hi dan Lo di kedua tapping point Capillary Level Transmiter.

2. Vessel Trim di Piping Isometric hanya menunjukkan Nozzle 1 dan Nozzel 2 dipasang LT-XXXX. Artinya 2 Nozzle dipasang LT yang sama. Ya memang betul karena LT-XXXX memerlukan 2 tapping Nozzle Hi dan Lo. Sayangnya Vessel Trim Isometric juga tidak menunjukkan yang mana dari LT-XXXX dipasang di Nozzle 1 dan yang mana dipasang di Nozzle 2. Kesimpulannya Isometric tidak membantu.

3. Kemudian lari ke P&ID pak. P&ID juga tidak pernah memberikan marking Hi dan Lo. Akhirnya di lapangan dibuat kesimpulan. Berdasarkan pengetahuan lapangan bahwa upstream atau Inlet itu selalu Hi-pressure dibanding downstream atau outlet. Kemudian mereka liat Inlet dari Vessel posisinya tinggi alias di atas, lebih tinggi dari Nozzle bagian atas untuk Level Transmiter. Sehingga menurut mereka Nozzle yang posisinya di Atas adalah Hi-pressure atau pressurenya lebih tinggi dari Nozzle yang di bawah. Sehingga oleh orang konstruksi lapangan, Nozzle yang posisinya di atas dikonek ke Hi dan Nozzle yang posisinya di bawah dikonek ke Lo. Jadinya ya begitu semua, kalau salah ya salah semua.

Di mana letak kesalahannya?

Hi-Lo pada Capillary Level Transmitter menunjukkan Hi-pressure dan Lo-pressure dari Level Transmitter. Bukan elevasi. Kenapa ngukur Level (ketinggian) perlu ngukur pressure (tekanan)? Sudah sering jadi topik blog ini jadi tak perlu dijelaskan. Hubungan klasiknya adalah pelajaran Fisika SMA bahwa p = rho.g.h (tekanan = masa jenis x percepatan gravitasi x ketinggian). Hubungan tekanan dan ketinggian baik-baik saja dan tetap bahagia dan harmonis. Meskipun tekanan mempunyai hubungan juga dengan flowarate bukan berarti tekanan sedang berselingkuh. Justeru hubungan tekanan dan flowrate juga merupakan hubungan resmi juga. Akan tetapi mereka tinggal di rumah yang berbeda. Rumah tangganya berbeda.

Pada kasus Vessel atau Tangki hubungan ketinggian cairan (level) dan tekanan selalu tekanan yang lebih tinggi pasti di bottom. Tekanan di dasar adalah tekanan permukaan + tekanan static liquid karena gravitasi. Jadi berapapun tekanan di atas Vessel maka tekanan dibawahnya selalu akan ditambahkan dengan tekanan static liquid. Artinya tekanan di bawah selalu lebih Hi dibandingkan dengan tekanan di atas Vessel (Lo). Ini adalah Rumah Tangga Tekanan dan Ketinggian Cairan.

Sedangkan istilah Inlet, Upstream selalu memiliki tekanan yang lebih tinggi dibandingkan tekanan Outlet, Downstream adalah Rumah Tangga Tekanan dan Aliran / atau differensialnya. Ini adalah Rumah Tangga tekanan yang lain. Rumah tangga berbeda maka konsep juga berbeda.

Lesson Learned

1. Hook Up Drawing harus mencantumkan marking Hi-Lo pada Instrument yang memiliki 2 tapping. 3 bulan lalu saya pernah ngomong ini juga pada fase As-Built dan ada saja engineer yang bilang: orang lapangan adalah orang pengalaman jadi sudah tau mana yang Lo dan mana yang Hi tak mungkin itu tertukar.

2. Biarkan saja Isometric Vessel Trim seperti gaya masing-masing piping engineer. Tetapi kalau piping engineer mau repot-repot IDC Isometric ke Instrument untuk menandai mana tapping Hi dan mana Lo. He is great Piping Engineer.

3. Jangan campur adukkan rumah tangga ketinggian liquid dengan rumah tangga aliran atau differensial pressure. Meskipun ke dua rumah tangga dihubungkan oleh satu suami yaitu tekanan. Tetapi cara pandang dan cara paham dikedua rumah tangga berbeda. Sikap suami yaitu tekanan pada rumah tangga liquid level dan sikap suami pada rumah tangga aliran (flow rate), differensial berbeda. Berbeda bukan berarti tidak adil.

4. Begitu berbicara level maka Hi-pressure selalu di bawah, Lo-pressure selalu lebih di atas. Tidak perlu liat-liat mana Inlet mana outlet. Tidak perlu melihat mana upstream mana downstream.

5. Begitu berbicara flow maka Hi-pressure selalu di upstream, dan Lo pressure di downstream. Fluidanya harus mengalir.

6. Begitu berbicara differensial pressure maka Hi-pressure selalu di upstream dan Lo pressure selalu di downstream. Fluidanya harus mengalir.

Batam, 07 Apr 2018

Nova Kurniawan

Jangan bilang Return, itu namanya Vent!

“Pak, itu bukan Return namanya, di mana-mana itu disebut Vent” teriak orang itu ke saya.

Saya sedang membaca P&ID Wellhead Control Panel yang mensuplay hydraulic ke Wellhead X-Mass Tree. Saya cari diagram supplynya dan diagram returnnya ke reservoir. Ketika saya melihat pompa pneumatic yang beroperasi dengan Instrument Gas saya cek keluaran gas hanya diberi simbol segitiga sehingga otomatis saya nyeletuk:

“Ini gas RETURN ke mana?”

Tiba-tiba seorang yang rupanya memperhatikan saya nyeletuk, bicara ke saya dgn tegas:

“Jangan sebut itu RETURN pak. Di mana-mana buangan gas disebut VENT. Dan simbol segitiga itu semua mengarah ke Vent Header”.

Saya bilang: “Ok. Noted”

Mungkin saya sedang keseleo lidah atau mungkin keseleo otak juga karena manusia tempatnya keseleo.

Baiklah sekedar Summary singkat biar gak sering keseleo bahwa controlled Valve dan atau actuated Valve itu menggunakan salah satu dari berikut:

Electric (Perlu power dari distribution board untuk menggerakkan)

Hydraulic (Perlu SUPPLY pressure hydraulic dari kontrol panel. Dan perlu RETURN untuk mengembalikan hydraulic fluid)

Pneumatic – Air (Perlu SUPPLY dari Instrument Air. Dan perlu EXHAUST langsung ke udara bebas)

Pneumatic – Gas (Perlu SUPPLY dari Instrument Gas. Dan perlu VENT yang disambungkan ke Vent Header yang nantinya akan dibuang ke tempat aman yang jauh)

05 May 2018

Nova Kurniawan

Measure Nozzle Orientation

It was a long time back story which still remain in my mind now because it was a mistake.

We had a task from our superior to evaluate and As-Built Wellhead chrismass tree orientation. We mean I and My Piping Counterpart. My task was simply because only to capture hydraulic tubing tapping point connection for Sub-Surface Safety Valve, Master Valve, and Wing Valve. I did not think it too much because I knew even I did not get exact degree tapping orientation I would be still going to able to do offset and bend the tubing to catch the tapping orientation on-site later by field run during next Hook Up campaign. This was an easy task, I just brought Measuring Tape and Camera with me. I just plan to draw a rough sketch where the tubing would be run and connected. Is it North-East, North-West,….etc? No detail degree orientation.

When I was ready to fly by chooper in the early morning, I got news that my piping counterpart did not able to go because he did not pass medical examination. And there was a dicision from Superior that I would the only one will go offshore and capture up-date or as-built piping scope Nozzle Orientation of Wellhead after drilling completion. I said that I only have Measuring Tape and Camera, how could I do that? They said…Just make many Photos of the Wellhead.

Then the story was a fail story of Measuring degree of Nozzle orientation. The actual nozzle direction of total 7 wellhead was varying any direction. Taking zero degree of Platform North and measure deviation againts zero by Measuring Tape was still not help designer much to get clear picture where was the exact orientation of the Nozzles. Many Photos, many measurement did not help much.

When I arrived back onshore somebody told me that on the certain standard pipe size (2″,3″,4″,6″,etc….) and schedule of piping (Std, Sch 80, etc…), all piping fitters know total round circle of pipes (circumference of circle). To determine the degree orientation on the pipe they just playing Measuring Tape. For example to determine 30 degree againts north zero hence (30/360) x Circumference of circle = They will get distance n mm againts zero in corresponding with 30 degree. On the other things to get a degree orientation by Measuring Tape is (distance from north zero to meaaured orientation degree / Total Circumference of circle piping round) x 360 degree. They Will get n degree Nozzle orientation againts zero.

Unfortunately Wellhead was not a piping with certain size and schedule and unlucky I did not measure the circumference of Wellhead circle. That was why the photos told nothing.

Sometimes people need to commit a memorable mistake to get a lesson learned.

Is there any other suggestion measure degree circular orientation by Measuring Tape only?

Batam, 12 Apr 2018

Nova Kurniawan

Stroke ESDV dan Josss Howos Howos Nyembur Isi N2He dalam Pipa

Di post blog sebelumnya kisah saya tentang joss howos howos N2He karena Valve terbuka sendiri FAIL OPEN. Pada cerpen kali ini agak sedikit sebaliknya yaitu pipa berisi N2He sampai batas ESDV (Emergency Shut down Valve dengan Tipe Valve Fail Close). Joss Howos Howosnya karena ESDV justru sengaja dibuka karena teknisi tidak tahu bahwa pipanya sudah berisi N2He.

Pada EPC Wellhead Platform 2 orang Instrument Technician mendapatkan tugas untuk melakukan Function Test ESDV yang dipasang pada pipa menghubungkan Production Manifold dan Pipa ke Hook Up Portion yang nantinya akan di join ke Riser pada saat Hook Up campaign di laut. Ujung pipa yang nanti disambung ke Riser hanya ditutup oleh Plastik End Cap dan diikat.

PTW divalidasi dengan judul Function Test Valve WPXX All Deck (Lower Deck, Mezz Deck, Upper Deck). Ketika melakukan validasi teknisi hanya bilang ke pemberi ijin kerja sebagai kontinyu yang kemarin Pak. Tidak secara spesifik menerangkan atau meng-highlight posisi ESDV di P&ID. Karena tidak ada penekanan maka ini hanya dianggap pengetesan rutin. Validasi PTW ditandatangani.

Kemudian ke-2 orang Instrument Technician menyiapkan Function Test ESDV. Semua utility yang diperlukan seperti Instrument Air disiapkan dan signal DO dari PLC sudah siap. Control Room memberi aba-aba melalui radio bahwa ESDV akan open… 3,2,1…Go. Tiba-tiba Jooosss Howos Howos… Plastik Cap diujung Pipa Terbang entah kemana diiringi bunyi yang memekakkan telinga. Untungnya tidak ada orang yang tersambar cap ini. N2He yang ada di platform keluar semua melalui pipa yang terbuka ini.

Kedua orang Instrument Technician ini heran kenapa bisa ada N2He di upstream ESDV yang mereka buka? Padahal PTW sudah ditandatangani. Artinya mereka boleh melakukan ini dengan aman.

Sekali lagi ini hanya FIKSI seperti Novel Ghost Fleet. Kalau ada kemiripan mungkin hanya kebetulan. Pelajaran yang bisa diambil:

1. Instrument Technician tidak akan pernah tau isi pipa yang Valvenya atau ESDVnya akan mereka buka. Comm Manager yang harus men-STOP pekerjaan ini dan tidak menandatangani tangani PTW. Dan juga pipa yang sudah ada isinya wajib dikasih warning sign.

2. Aktivitas pengisian N2He dilakukan oleh Grup Lain pada malam hari untuk persiapan Leak Test pada sore harinya. P&ID harus di Mark Up bahwa N2He telah diisikan dan PTW Coordinator dan Comm Manager harus menyimpan mark-up ini di Permit Office. Semua yang sudah ‘live’ yang tertera di P&ID, Single Line, PCS/SIS Block Diagram harus di Mark Up di Permit Office.

3. PTW kegiatan Function Test dan commissioning lainnya harus menyertakan dokumen antara lain P&ID, Single Line, Block Diagram. Biasanya PTW hanya mengattachkan Procedure dan Lay Out Lokasi Deck. Informasisi lokasi tidak cukup membantu PTW Coordinator atau Comm Manager untuk bisa menangkap Bahaya Commissioning. Gambar Layout hanya membantu PTW Coord agar tidak bentrok dengan aktivitas konstruksi spt: Lifting, HotWork, dan Blasting. Gambar P&ID, Single Line, Block Diagram membantu PTW Coord dan Comm Manager membayangkan systemnya dan mengcross check terhadap ‘live’ status sebelum mereka tanda tangan permit.

4. Berlakukan Policy tegas tidak boleh ada menyimpan pneumatic (udara atau gas) dengan alasan apapun (persiapan, penghematan, dll) ketika di platform ada departemen / bagian lain yang masih bekerja. Ketika ada departemen lain bekerja maka pneumatic harus dikeluarkan kecuali hanya low pressure gas yang dipakai.untuk preservasi.

Jadi tidak ada alasan persiapan pengisian gas N2He padahal departemen lain masih bekerja sebelum waktu leak Test. Juga tidak ada alasan untuk menghemat N2He maka selesai leak Test satu sistem dipindah ke sistem lain yang hendak ditest biar hemat. Tidak ada istilah hemat-hemat an. Selesai leak test maka N2He dibuang… Tidak perlu disimpan.

Bojonegoro, 28 Mar 2018

Nova Kurniawan

Actuated / Instrumented Valve sebagai Batas Leak Test (GALT atau N2He) pada Pipa

Pada suatu pagi tiba-tiba terdengar suara “JOSSS HOWOSS HOWOSS” yang begitu tiba-tiba dan sangat bising sekali pada suatu EPCI Project pembuatan Wellhead Platform. Pipa-pipa kecil 2″yang belum disupport secara sempurna ujungnya bergoyang-goyang dan orang-orang berlarian keluar dari platform. Yaa… Ada aliran gas tiba-tiba yang keluar dari sistem perpipaan. Kenapa ini bisa terjadi?

Ada laporan bahwa Valve yang dipakai sebagai Batas aktivitas Leak Test Pipa yang semula tertutup tiba-tiba TERBUKA sehingga tekanan N2He yang dipakai Leak Test tersebar ke mana-mana (ke system pipa yang masih under Construction alias belum selesai) tanpa bisa dikendalikan gas keluar dari open flanges nyembur ke mana-mana. Orang yang kaget pada berhamburan…

Pertanyaannya Siapa yang membuka Valve tersebut? Jawabannya Tidak Ada yang membuka Pak.

Kok bisa terbuka sendiri?

Ternyata Valve yang dipakai untuk ngeblock adalah Actuated / Instrumented Valve yang kondisinya FAIL OPEN jadi dia membuka sendiri kalau terjadi FAIL.

Jadi Valvenya FAIL? Kenapa bisa tiba-tiba FAIL? Karena e karena Instrument Airnya tiba-tiba hilang.

Kenapa Instrument Airnya tiba-tiba hilang? Karena e karena supply udara untuk Instrument Air itu langsung dari Air Compressor….Dan celakanya Air Compressornya tiba-tiba mati.

Kenapa ketika Air Compressor mati Instrument air hilang Actuated Valve jadi fail? Kenapa tidak dipasang check Valve saja sehingga tekanan Instrument air gak bisa balik?

Gak bisa dong dipasang check valve karena Actuated Valve ini didesain kondisi amannya (Low Energi) pada posisi terbuka FAIL OPEN. Jadi begitu FAIL kemudian Valvenya terbuka maka artinya valve-nya berfungsi bagus. Lahhh terusss?

Yang salah adalah yang menjadikan Actuated Valve FAIL OPEN sebagai batas tanpa antisipasi terjadinya kondisi FAIL. Yang perlu dieliminasi adalah hal-hal yang menyebabkan jadi FAIL.

Anggap saja ini hanya kisah di atas adalah kisah FIKSI seperti Ghost Fleet.

Bagi orang Non-Instrument adanya suatu Valve yang bisa membuka sendiri tiba-tiba adalah keanehan. Menurut orang Non-Instrument, Valve itu normalnya adalah tertutup dan tidak bisa membuka sendiri kecuali dibuka atau diperintahkan untuk membuka.

Padahal bagi orang Instrument ada ada 2 macam Valve yaitu Fail Open dan Fail Close. Valve yang FAIL to OPEN artinya ENERGIZE to CLOSE atau POWER to CLOSE. Energize / Power bisa berupa pneumatic dan atau electric. Saya selalu menghindari penggunaan istilah NORMALLY OPEN karena kata normally memerlukan definisi lagi apa itu normal? Apakah normal itu ada energi atau tidak ada energi? Buat saya istilah Normally selalu perlu sedikit waktu untuk berfikir. Tetapi dengan istilah FAIL OPEN saya tidak perlu berfikir bahwa tanpa ada apa2 alias digeletakin aja Valve tersebut dalam posisi OPEN.

Pemilihan Actuated / Instrumented Valve dengan status FAIL OPEN sebagai batas suatu pengetesan kebocoran menyebabkan Valve tersebut harus ditutup ENERGIZE to CLOSE. Untuk menutup Valve tersebut perlu Energi / Power. Kalau Valve tersebut memerlukan energi pneumatic untuk menggerakkan aktuator maka diperlukan Instrument air. Kalau Valve tersebut punya solenoid yang perlu elektrik maka perlu disiapkan power 24VDC.

Syarat wajibnya adalah Valve yang jadi batas Leak Test tidak boleh FAIL.

Jika diperlukan intervensi manual pada Valve selama proses leak Test pipa, maka bisa dilakukan:

1. Jika Actuated Valve mempunya Hand Wheel untuk intervensi manual maka tutup Valve secara manual dengan HandWheel. Jangan pakai power dan tekanan.

2. Jika Actuated Valve tidak punya HandWheel maka pastikan udara di dalam Chamber actuator tidak bisa keluar. Udara dr Chamber bisa keluar melalui exhaust. Silahkan di plug semua exhaustnya Actuated Valve.

3. Ketika supply Instrument Air yang terhenti menyebabkan FAIL maka Supply udara Instrument Air harus diblock dari Instrument air manifold / block Valve IA line terdekat. Sehingga matinya Compressor tidak membuat tekanan jadi balik keluar dari valve.

4. Lepaskan tubing di Instrumented Valve Panel yang ke actuator ganti inject langsung udara pake selang kemudian selangnya di plug.

Intinya semua antisipasi manual harus dilakukan untuk mencegah Valve ini FAIL. Karena kalau terbuka N2 bisa keluar ke mana-mana termasuk ke system pipa yang masih dikerjakan orang konstruksi.

Bojonegoro, 27 Mar 2018

Nova Kurniawan

Precomm, Commissioning PTW, dan Team

Pada suatu Project EPCI pembangunan Offshore Platform di suatu daerah dalam fase commissioning.

Suatu siang vendor distribution board sedang ingin melakukan pengetesan outgoing distribusi power ke consumer. Vendor ini cukup berpengalaman untuk melakukan pengerjaan ini. Ketika distribution board ready dia bertanya kepada team commissioning apakah outgoing ke equipment ready dan bisa energize alias Breaker On? Team commissioning mengatakan semua ready dan PTW sudah in-place dan sudah ditandatangani.

Vendor kembali menanyakan ke tim commissioning tentang kesiapan field consumer dan dijawab siap. Tetapi tiba-tiba orang konstruksi yang kebetulan ada di situ bilang:

“Eh, itu ada 3 consumer yang barangnya belum dipasang jadi kabelnya masih gantung. Bahkan ujung kabel masih telanjang menyentuh platform. 3 Alat ini belum dipasang karena barang belum datang”.

Orang Commissioning kemudian ngeliat ke orang Konstruksi: “Oh begitu ya Pak?”

Konstruksi: “O… Iya, lha wong saya koordinator pemasangan alat listrik, gland, dan terminasi. Kok kamu gak tau padahal kan sudah pre-comm?”

Commissioning: “Yang pre-comm bukan kami pak, tapi team QC. Jadi kami tidak tau mana kabel yang belum dikonek”

Konstruksi: “Wah kok begitu. Lha ini PTW juga sudah di tanda tangan sama Area Authority? Siapa Area Authority nya? Ohhh orang Structure. Apa orang Structure tau Electrical System dan tau mana equipment yang ready dan mana belum di pasang atau kabel belum di konek?”

Commissioning: “Iya seharusnya atau wajibnya tau pak, format PTW-nya begitu, karena semua PTW baik utk Structure, Lifting, Welding, Konstruksi (Hot Work, Cold Work) dan Commissioning formatnya sama”.

Anggap saja percakapan di atas adalah FIKSI belaka. Tetapi kalau ada kejadian yang mirip sebaiknya improvement perlu dilakukan. Saya melihat beberapa improvement yang perlu saya Highlight yang terpenting. Kalau kawan Project ada tambahan dipersilahkan.

1. PTW commissioning harus berbeda dengan semua PTW yang lain (Hot Work, Cold Work: banyak aktivitas konstruksi).

2. Pemberi ijin kegiatan Commissioning adalah Area Authority Commissioning. Bisa Commissioning Manager atau Engineer yang didelegasikan oleh Commissioning Manager. Hanya dia yang boleh tanda tangan permit sebagai pemberi ijin. Penguasa area yang biasanya dipilih dari Area atau General Superintendent atau Manager area yang berdasarkan pengalaman saya tidak paham System / Sub-System commissioning mana yang ready atau tidak, juga tidak paham secara detail mana PTW yang boleh atau tidak boleh ditanda tangani.

3. Tim Commissioning yang hendak melakukan commissioning system tersebut harus “merasakan” Pre-comm. Kalau kegiatan Pre-comm menurut kebiasaan kontraktor dilakukan oleh tim lain yaitu QC group maka harus diadakan kegiatan tambahan tim commissioning untuk mengulang Pre-Commissioning 100% dan tidak boleh random. Commissioning Group tidak boleh percaya siapapun yang bilang biar Pre-comm dipegang QC dan orang commissioning nanti tinggal terima bersih. Ini salah…

Pengulangantu Pre-comm wajib agar Comm Technician mengetahui where about dan what about system tersebut.

4. Setelah team commissioning melakukan Pre-Commissioning maka team ini harus melakukan LOTO kepada breaker yang system consumernya tidak siap energize. LOTO hukumnya wajib.

Bojonegoro, 26 Maret 2018

Nova Kurniawan