Where is the pressure going to balance?

I have a simple question when I have gas 2000 Psig in a 1 M3 cylinder and I am going to transfer this gas to a 0 Psig vessel Volume 100 M3 with free flowing.

  1. Can you transfer all pressure in Cylinder 2000 Psi 1 M3 to the vessel? And it will make the Cylinder totally empty 0 Psig?
  2. Do you think a Boyle Law can be applied in this case? P1V1 = P2V2?
  3. What is the balance pressure going to be reached?

Pertanyaan pertama apakah seluruh isi silinedr 2000 Psi Volume 1M3 bisa diisikan ke dalam Vessel 100 M3 sampai habis dengan free flow? Jawabannya TIDAK, Kenapa?. Karena udara atau gas mengalir dari silinder ke vessel dengan adanya perbedaan tekanan. Artinya tekanan di dalam silinder akan turun dan tekanan di dalam vessel akan naik dan mencapai titik tekanan kesetimbangan keduanya. Ketika tekanan kesetimbangan tercapai maka udara sudah tidak bisa mengalir. Dalam posisi kesetimbangan masih tertinggal tekanan udara di dalam silinder. Jadi tekanan udara di dalam silinder tidak akan pernah jadi 0 Psig pasti masih ada sisa. Berapa tekanan sisanya? Bagaimana cara tau-nya berapa tekanan kesetimbangan? Masuk ke pertanyaan ke-2.

Untuk mencari tekanan kesetimbangan dari kombinasi Pressure dan Volume, maka banyak orang akan advise dan mengarahkan ke hukum boyle. Note: Hukum boyle itu sangat mudah diaplikasikan dan dibayangkan pada balon atau plembungan yang bisa mengalami perubahan tekanan dan perubahan volume (karet kan lemes) dan perubahan temperature pada masa udara yang tetap. Nah, silinder dan vessel itu umumnya terbuat dari besi artinya volume tetap, tidak seperti balon. Cuman ada transfer udara dari volume kecil ke volume besar. Ok kita asumsikan kondisi pertama adalah Silinder dengan volume kecial dan kondisi ke dua adalah Vessel dengan volume besar, apakah hukum boyle bisa diaplikasikan? Kalau seluruh masa udara dari silinder bisa dipindah semuanya ke vessel maka P1V1 = P2V2 bisa dipakai sebagai pendekatan. Tetapi pada pembahasan pertanyaan pertama dijelaskan bahwa tidak semua masa udara dan tekanan dalam silinder P1V1 bisa ditransfer ke vessel P2V2. Sekali lagi tidak semua, tetapi akan menyisakan masa udara dan tekanan pada kesetimbangan. Sehingga perlu sedikit ada modifikasi dari persamaan boyle tersebut. Modifikasinya adalah menggunakan konsep hukum kekekalan energi yaitu silinder melepaskan energi dan sebaliknya vessel menerima energi pada temperatur tetap. Pelepasan energi oleh silinder linear dengan differensial pressure, sebaliknya penerimaan energ oleh vessel linear dengan differensial pressure pada temperature tetap. Kalau Tekanan kesetimbangan disebut Ps maka dengan mengesampingkan faktor thermodinamika yang saya tidak tau (isothermic, adiabatic, isokhoric, de el el) formula ini merepresentasikan hukum kekekalan energi melalui transfer pressure dari silinder P1V1 ke Vessel P2V2 (volume hose diabaikan):

(P1 – Ps) x V1 = (Ps -P2) x V2

Pertanyaan ketiga yaitu pada tekanan berapa kedua sistem yaitu silinder dan vessel akan mencapai kesetimbangan. Dengan formula di atas yang merupakan pendekatan dengan mengesampingkan faktor termodinamika lain yang mungkin, juga mengesampingkan volume hose maka tekanan kesetimbangan pada kasus di atas bisa dihitung kira-kira. P1=2000 Psi, Ps dicari, V1=Volume silinder, P2=Volume initial empty, V2 = Volume vessel

(2000 – Ps) x 1 = (Ps – 0) x 100

2000 – Ps = 100 Ps – 0

Ps = 2000/101

Ps = 19.8 Psig

Nah, nilai 19.8 Psig bisa dianggap sebagai nilai kira-kira yang secara empiris formula ini sering saya pakai.

Pertanyaan tambahan kemudian adalah perlu berapa banyak silinder 2000 Psi, 1M3 untuk mengisi vessel dengan volume 100M3 sampai pada tekanan 200 Psi. Dengan formula di atas silinder by slinder satu-satu akan mengisi vessel sampai tekanan kesetimbangan Ps mencapai 200 Psi. Akan terhitung perlu berapa banyak silinder.

Atau dengan metode silinder paraller 2000 Psi, 1M3. Kalau silinder-silinder diparallel yang nambah banyak apanya? Volumenya ya… bukan pressurenya. Sehingga dari formula di atas bisa dikira-kira sebagai berikut dengan metode parallel:

(2000 – 200) x V1 = (200 – 0) x 100

1800 V1  = 20000

V1 = 11.11 M3   (jadi perlu disiapin 12 silinder)

Sekali lagi ini hanya utak utik saya terhadap kondisi lingkunagn sekitar.

Batam, 12 May 2017

Nova Kurniawan

 

 

PRV Seat Test & Pop Test

I have 2 issues recently need to be summarize about PRV testing:

  1. Somebody asking certification of the facility going to be used to do seat test & pop test of PRV. I know many years ago that government body (Ditjen Migas in Indonesia or Migas assigned body) shall certify the PRV. But they did not certify the facility. I know that the vessel shall meet ASME VIII and certified by third party and the pressure gauges are going to be used must be calibrated with traceability to reference to third party laboratory. Because the key of PRV test is pressure measurement during seat leakage and pop pressure. It was ensured by calibrated pressure gauges. But according to him calibration cert is not enough, they requested facility certificate.
  2. Related to item#1 but its more detail the guy require the facility to do PRV Pop Test shall produce flowrate according to flowrate on data sheet. PRV seat test and pop test is about pressure. I have nothing to do with the flow. But he request min flow service shall available.

Untuk masalah yang pertama menjadi masalah karena tidak pernah ada sebelumnya orang meminta certificate untuk facility. Orang meminta certificate adalah certificate kalibrasi alat ukur untuk memastikan seat pressure dan pop up pressure accurate dan dari sisi safety meminta certificate bejana tekan / vessel untuk memastikan keamanan biar tidak terjadi kecelakaan. Certificate facility sama sekali diluar pemahaman saya, apalagi dikasih istilah-istilah tambahan tentang environment, cleanness, proper accessability, de el el.. it is totally non technical explainable. Kalau pembaca ada yang tau dimana referensi standar untuk mengevaluasi fasilitas PRV? Agar tidak terjadi perang Baratayudha dan pekerjaan berhenti alias tidak ada progress maka saya propose panggil third party in which I don’t know he has expertise in the PRV or not. Kita kasih tunjuk certificate pressure gauge, certificate vessel, dan tunjukkan teknisi melakukan seat test dan pop test PRV according to project specification. Kemudian dari hasil pengamatan itu maka third party membuat certificate endorsement bahwa aktivitas sudah dilakukan sesuai dan dengan alat yang sesuai dengan projek specification. Case closed.

Tetapi kembali beranalogi ketika saya memesan baju ke penjahit (sbg contractor baju) maka saya sendiri yang akan memastikan bahwa baju saya betul sesuai spek yang saya minta. Saya tidak akan meminta ke orang lain yang namanya third party untuk memastikan baju saya dikerjakan dengan betul atau tidak sesuai spek saya. Karena saya yang mengerti baju saya.

Untuk kasus yang kedua timbul jauh setelah issue cerificate facility. Perhatian kita selama ini tentang PRV adalah Pressure (namanya Pressure Relief Valve) bukan Flowrate. Tetapi mas-mas ini meminta flowrate harus digenerate sesuai data sheet. Wooww berat bro yang namanya menghasilkan flowrate sesuai data sheet. Flowrate di data sheet adalah flowrate gas service actual yang dihasilkan dari sumur. Untuk menghasilkan flowrate sebesar service operation diperlukan kompressor lebih dari 1000 cfm. Untuk apa flowrate perlu diperhatikan? Dari berbagai penjelasan yang diberikan adalah ketika kita cuman memproduce pressure pada Pop Test Pressurenya maka hentakan disk PRV setelah poping jika berkali-kali akan menyebabkan disk-nya aus dan cepat rusak. Hmm benarkah? Jika flowrate besar maka ketika popping terjadi maka flowrate di uspstream PRV akan menahan hentakan closing disk PRV. Well ilmu baru. Benarkah begitu?

Selama ini yang namanya test PRV adalah Seat Test dulu dengan inject pressure dibawah set pressure poppingnya sesuai API-527 (90% dari set pressure atau 5 Psi dibawah Set Pressure) dia akan tidak bocor atau bocor sedikit sesuai kriteria pada tabel API-527. Setelah seat tightness test OK kemudian naikkan pressure sampai pada popping set-pressurenya kemudian kan terjadi keluaran udara dari downstreamnya.

Batam, 06-May-2017

Nova Kurniawan

Pressure Test Vs Leak Test

In Oil and Gas project ,Do you think both terminology is the same understanding or different? Why I do need to write this in my blog because I have been 13 years in the project and thought it was simple, it was never been a problem, but recently it became a problem. The problem starts from the specification of instrumentation that mentioned all instrument  tubing line need to be pressure tested / leak tested. The design guy who made or “copy paste” the spec from previous project was easily ignore that the marking “/” will create a problem during execution. Instrument people or society does not have standard for tubing. Tubing standard shall refer to ASME, it follows piping understanding. Instrument professional apparently does not have big concern about tubing or even have time to discuss about what is the different between pressure test or leak test for tubing.

Piping people define pressure test is a destruction test by means of water (hydro) at 1.5 design pressure or by mean of air (pneumatic) 1.1 design pressure. Why piping need to be pressure tested? Ketika pipa sudah selesai di buat di pabrik maka pabrik akan melakukan test untuk membuktikan bahwa material pipe mampu menahan tekanan di atas design pressurenya. Ketika pipa di fabrikasi (di potong, diweld/dilas, menjadi kombinasi baru) maka pressure test diperlukan untuk menguji bahwa sambungan sambungan baru yang dibuat pada saat fabrikasi mampu menahan tekanan diatas design pressurenya. Jadi fokus utama pressure test di pabrik adalah uji material dan fokus utama pressure test di fabrikasi adalah uji sambungan las-lasan. Las-lasan harus lebih kuat atau minimal sama kuat dengan material parentnya yang mau disambung. Hasil dari pressure test adalah bisa bagus seluruh, bisa pecah dari las-lasan, atau ada porosity di las-lasan sehingga ada bocor. Kesimpulannya dalam fasa fabrikasi dan konstruksi ketika pipa tidak ditemukan sambungan las-lasan maka tidak diperlukan pressure test. Pressure Test = Uji kekuatan las-lasan.

Sedangkan Leak Test lain Cerita. Orang piping memahami leak test sebagai menguji kebocoran pada sambungan yang berupa flange joint dan thread joints. Leak test tidak menguji kekuatan lagi tapi menguji “keketatan sambungan” yang dibuat dengan kunci baut dan ulir. Media yang digunakan harus berupa air/ nitrogen / helium. Tekanan yang digunakan dibawah design pressure. Beberapa proyek mensyaratkan pada nilai maximum operating pressurenya atau tepat dibawah setting PRV atau generally 90% design pressure. Bocornya dicari disambungan-sambungan flange dengan bubble atau helium detector. Jadi Leak Test = Nyari kebocoran sambungan flange atau ulir.

Kembali ke kasus instrument tubing ketika ada tubing dari taping point connection ke instrument connection perlu ditest apa?

Uji kekuatan material adalah urusan pabrik. Proyek konstruksi hanya menguji sambungan yang dibuat dalam fasa konstruksi.

Pressure Test? Kalau ada sambungan tubing yang dilakukan dengan pengelasan maka diperlukan pressure test. Kalau tidak ada pengelasan maka jangan dilakukan pressure test.

Leak Test? Apakah ada sambungan yang melibatkan ulir seperti union? kalau ada union maka diperlukan leak test. Leak test mengikuti cara piping pada maximum operating pressurenya atau 90% design pressure proses. Jadi kalau ada sambungan yang dibuat pake kunci / spanner / kunci inggris maka lakukan leak test.

Batam 5-May-2017

Nova Kurniawan

 

How Long to Fill a Vessel with Air to X Psig?

Hi guys, if you got a question:

“You have 10 M3 of Vessel and need to be filled with Air until 1000 Psig”

  1. What kind of equipment are you going to use?
  2. How long it will take to  to fill?

What is the practical formula will lead you to get approximately correct estimation?

Sebelum berdiskusi lebih jauh saya akan mengemukakan 2 penyataan:

  1. “Silahkan isi Vessel dengan udara sampai penuh”. Apakah pernyataan sederhana ini benar dan pantas untuk diucapkan? Hmm.. jawabannya adalah salah. Pernyataan tersebut adalah salah dan tidak pantas diucapkan.
  2. “Tolong isi Vessel dengan udara sampai tekanannya 0 Psig atau 0 Barg”. Apakah pernyataan ini benar? Jawabannya adalah tidak benar. Pernyataan ini adalah salah.

Kalau ke dua pernyataan di atas dirubah medianya:

  1. “Silahkan isi Vessel dengan air sampai penuh”. Apakah pernyataan sederhana ini benar? Iya jadi benar.
  2. “Tolong isi Vessel dengan air sampai tekanannya 0 Psi atau 0 Bar”. Apakah pernyataan ini benar? Hmmm dimana dulu tekanannya. Kalau dibagian atasnya benar kalau di bottomnya salah, karena akan ada tekanan statik yang menurut fisika SMA disebut sebagai P= Rho. g. h.

Kalimat “Silahkan isi Vessel dengan udara sampai penuh” adalah salah karena merupakan sifat dari gas yang partikelnya mobil alias bebas bergerak untuk memenuhi suatu enclosure atau ruangan. Dalam kondisi tekanan atmosphere defaultnya suatu vessel terisi udara sebesar tekanan atmosphere. Kecuali vessel divakum maka isi udaranya di bawah tekanan atmosphere. Meski udara sama dengan tekanan atmosphere atau dibawah tekanan atmosphere udaranya memenuhi seluruh enclosure vessel secara merata. Artinya penuh.

Kalimat “Tolong isi Vessel dengan udara sampai tekanannya 0 Psig atau 0 Barg”. Ada ambiguitas pada kalimat ini. Ketika sebuah vessel man way nya ditutup dan dikunci maka tekanan yang tertinggal di dalam adalah tekanan atmosphere dan tersebar merata di mana mana di dalam enclosure (hukum pascal). Tekanan di dalam dan di luar vessel adalah sama. Ingat segala bentuk pengukuran tekanan process direferensikan atau yang dijadikan dasar adalah atmosphere maka setiap satuan pengukuran tekanan process harus ditambahkan “g” = gauge. Setiap Pressure Gauge mengukur tekanan yang direferensikan ke (dihitung dari)  tekanan atmosphere. Karena direferensikan ke tekanan atmosphere maka dalam kondisi tidak ada tekanan tambahan (tanpa process), hanya tekanan atsmosphere, maka pressure gauge harus dikalibrasi ke 0 Psig atau 0 Barg. Tekanan atmesphere 1 atm =  14.69 Psia = 0 Psig. Tekanan atmosphere  1 atm = 1.01 Bara = 0 Barg. Psia dan Bara “a” = absolute alias mutlak jarang sekali dituliskan jadinya Psi dan Bar saja.

Kalau masih rancu dengan tulisan saya diatas yaaa… karena alam ini mengandung udara bertekanan. Andai saja alam ini tidak ada udara bertekanan yang kita hirup setiap hari maka kita akan dengan mudah memahami konsep tekanan udara (gas)  Psi, Psia, Psig. Mari kita hilangkan udara dari bumi ini. Nah lhoo.

Kembali ke vessel yang baru saja ditutup man way nya dengan tekanan atmosphere di dalamnya tersebar di seluruh enclosure. Berapa tekanan yang akan ditunjukkan oleh pressure gauge? Ya 0 Psig. Artinya tanpa ada proses pengisian atau transfer energy ke dalam vessel tekanan di dalam vessel sudah 0 Psig. Jadi kalau ada statement isi vessel sampai 0 Psig maka pernyataan tersebut adalah salah. Nah, ketika supply angin dari compressor dimasukkan ke vessel maka tekanan udara akan naik dari 0 Psig menuju positif ke nilai yang diinginkan atau sesuai kapasitas kompressor.

Berapa kapasitas air kompressor yang biasa dibuat pabrik? Palu Gada? Apa lu mau gua ada. Hmm… mungkin aja. Tapi sepertinya yang palu gada itu special request. Yang umum-umum saja Kompressor UdaraTambal Bang berapa kapasitasnya? Bicara kapasitas harus selalau dikaitkan dengan 2 faktor yaitu tekanan dan flowarate. Kompressor tambal ban kapasitas tekanannya bisa mencapai 8 Barg/116Psig dengan flowrate 125-an liter / menit = 4.4 cfm. Cfm = Cubif Foot per Minutes. Kompressor untuk keperluan utility industry kapasitas tekanan bisa mencapai 10 Barg / 145 Psig dengan flowrate rata-rata 1000 cfm. Kompressor di atasnya yaitu High Pressure Compressor bisa mencapai 25 Barg / 362.5 Psig dengan flowrate rata-rata 1200 cfm. Apa ada compressor dengan kapasitas di atas 25 Barg? Mungkin Palu Gada bisa ada tapi normalnya orang akan memakai Booster. Apa beda Kompressor dan Booster? Kompressor menaikkan tekanan udara dari atmosfer (inletnya tekanan atmosfer). Booster menaikkan tekanan udara dari kompressor dilanjut ke stage 1, stage 2, dan stage stage selanjutnya. Itu konsep umum air kompressor yang perlu dipahami sbg user of air compressor.

Untuk mengisi 10M3 Vessel dari kosong 0 Psig menjadi 1000 Psig berapa lama waktu yang diperlukan? Kita akan menggunakan Booster Compressor dengan kapasitas pressure 2000 Psi dan Flowrate 1000 cfm (28.3M3/Min).

Sifat udara adalah compressible berbeda dengan air yang uncompressible. Menghitung berapa lama ngisi air ke dalam vessel akan lebih exact dan mudah diketemukan hasilnya. Tetapi udara perlu pendekatan empiris. Belum lagi sifat thermodinamiknya yang mudah berubah karena efek temperature.

Tetapi ada formula empiris yang bisa dipakai praktisi untuk menghitung agak – agak akurat dan bisa dipertanggungjawabkan yaitu:

Time = Volume * (P final – P awal) / (Flowrate * P atm)

Time = 10 M3 * (1014.6 Psia – 14.6 Psia ) / (28.3 M3/Min * 14.6 Psia)

= 24 Menit

Roughly waktu yang diperlukan adalah 24 menit dengan flow booster compressor constant 1000 cfm.

Batam, 19 Mar 2017

Nova Kurniawan

 

Does IP have relationship with Ex?

I say No, but why I need to write down this novel because I found 2 cases during my last project that people while discussing about IP then they grabbed and referred to Ex Certificate. Can we discuss IP certificate based on Ex Certificate? I still say No. It refers to different code, it refers to different purpose. While I am writing this article I am searching and learning what I believe why it should has no relation but only complementary. However If at the end of my searching I found the conclusion differently (means example let say Zone 1 automatically shall have IP66) , I will revise my novel accordingly. 

-to be continued-

 

Temperature Classes – Hazardous Area

Sepertinya Temperature Classes Hazardous Area menimbulkan pemahaman yang kebolak-balik diantara saya dan praktisi migas yang lain. Seringkali masih terjadi perdebatan diantara kontraktor, inspektor, dan engineer tentang hal ini. Ketika saya membaca punch list: Equipment Tag No XXXX suhunya bisa mencapai 450 degC, padahal permintaan Data Sheetnya T3. Dari mana angka 450 degC di dapatkan sehingga ditulis menjadi punchlist?

Dengan melihat tabel Temperature Class dibawah: (Hazard will not ignite at temperature below) kita akan belajar:

T1  450degC

T2  300degC

T3  200degC

T4  135degC

T5  100degC

T6  85degC

Kembali ke kasus punchlist di atas bahwa permintaan equipmentnya bersertifikat T3 sehingga menurut teori suhu equipment yang dihasilkan harus dibawah 200 degC. Tetapi kemudian dalam fase konstruksi diklaim bahwa temperaturenya bisa naik mencapai 450 degC. Dari mana tau-nya?

Ketika mencoba memahami definisi dari temperature class saya merasa ada kejanggalan dengan punch list tersebut. Janggal bukan berarti salah ya. Janggal bisa berarti karena sudut pemahaman yang berbeda. Oleh karenanya biar selalu lengket saya ingin menuliskan cara pemahaman versi saya.

Ketika berbicara suhu pada temperature classfication hazardous area akan ada 2 istilah suhu yang harus selalu diingat yaitu:

  • Suhu Bakar Lingkungan: Suhu minimum pada lingkungan gas yang menyebabkan api tersulut. (Flash point)
  • Suhu Equipment: Suhu yang dihasilkan equipment. (Surface Temperature)
  • Suhu Aman Lingkungan: Suhu aman yang dibolehkan (jauh dari flash point) pada lingkungan gas yang ditunjukkan pada Hazrdous Area Drawing (Safe Temperature)

Dongeng:

Suatu fasilitas oil & gas di offshore  diidentifikasi dan disyaratkan lingkungannya (yang mengandung gas) memiliki flash point 537 degC. Artinya ketika temperature lingkungan platform naik sampai 537 degC maka secara otomatis gas-gas di lingkungan platform tersebut akan tersulut energi panas menjadi api kemudian dilanjutkan dengan amuk si jago merah. Kewajiban dari yang bikin platform untuk memastikan semua equipment di platform yang menghasilkan panas tidak akan pernah mencapai suhu 537 degC.

Equipment di platform yang mungkin menghasilkan panas adalah Compressor, Generator, Heat Exchanger, Motor, Transmitter, Lampu, instrument dll. Suhu permukaan equipment-equipment tersebut jangan pernah mendekat angka 537 degC, semakin menjauh semakin bagus. Misalnya kalau perlu dijauhkan sampai angka 200 degC saja (Selisih 537 degC – 200 degC = 337 degC adalah safety margin yang sengaja diberikan). Suhu 200 degC equivalent dengan T3 (Suhu Aman) artinya equipment yang dipesan harus bersertifikat T3 (Suhu Permukaan yang dihasilkan equipment) atau di bawahnya T4, T5, T6. Semua equipment yang bersertifikat T3 akan memiliki surface temperature maksimal 200 degC, semua equipment bersertifikat T4,T5,T6 memiliki surface temperature maksimal yang lebih rendah lagi.

Apakah marking atau sertifikat bisa dipercaya? Itu lah perlunya lembaga independen semacam SIRA untuk memberikan stempelnya. Apakah SIRA bisa salah? Bisa saja, namanya orang. Tetapi karena mayoritas sudah percaya kepada stempel SIRA maka kesalahan hanya terjadi karena human error. Sehingga default equipment yang dicap T3 maka temperature surface maksimumnya adalah 200 degC.

Ketika suatu fasilitas oil & gas atau platform mensyaratkan Temperature Class T3, Apakah equipment dengan stempel T6 bisa dipasang di lokasi tersebut? Bisa, karena equipment bersertifikat T6 hanya menghasilkan surface temperature maksimal 85 degC.

Ketika suatu fasilitas oil & gas atau platform mensyaratkan Temperature Class T3, apakah equipment dengan stempel T2 bisa dipasang di lokasi tersebut? Tidak bisa, karena equipment bersertifikat T2 akan menghasilkan surface temperature 300 degC.

Apakah flood light atau lampu halogen yang terkenal panas bisa dihadapkan ke arah kepala sumur / wellhead / chrismass tree? Lihat dulu apa temperature class yang disyaratkan pada zone yang melingkupi wellhead tersebut. Ketika temperature class-nya misalnya adalah T3, maka flood light dengan Marking T3,T4,T5,T6, bisa dipasang di area tersebut.

Apakah boleh menyimpulkan heater suhunya bisa mencapai 450 degC padahal bersertifikat T3? Dari mana taunya? proses pertukaran panas atau heat exchange terjadi di dalam heater sedangkan Temperature Class adalah suhu permukaan. Ketika temperature class berstemple T3 maka sudah teruji bahwa maksimal suhu permukaan adalah 200 degC.

Laut Jawa, Dec 2014

Nova Kurniawan

Carbon Steel Gland Plates

Tulisan ini bermula dari perntanyaan: Kenapa Gland Plates jarang menggunakan material carbon steel?. Meskipun tentu saja ada engineering company dalam detail engineeringnya tidak menyebutkan detail tipe material yang diperbolehkan untuk dibuat jadi gland plates. Mungkin apa saja boleh, baik itu carbon steel, brass, stainless steel, etc. Tetapi jika kita sejenak berfikir tentang Eddy Current sepertinya pemilihan material apakah carbon steel, brass, atau stainless steel menjadi penting.